Slogan remaja bertanggung jawab adalah slogan yang dari dulu sampai sekarang selalu dielu-elukan organisasi tempat saya mengabdikan diri sekarang. Dulu, saya sempat mentertawakan slogan ini. karena, jujur saja menurut saya slogan ini begitu gombal. tapi sekarang sepertinya saya harus mengubah pola berpikir saya.
Ketika saya menghadapi curhat seorang remaja akhir (maksudnya sudah berusia 24 tahun) yang ngotot untuk aborsi karena hamil di luar nikah dan menghadapi banyak kendala antara lain karena beda agama dengan pasangan, takut menghadapi keluarga dan lingkungan dan akhirnya memutuskan untuk aborsi.
Dalam banyak hal saya memang terbuka, saya tidak peduli dengan orientasi seks seseorang. saya juga tidak peduli apakah orang itu mau melakukan seks di luar nikah. tapi dalam hal ini, saya pro-life. saya amat menentang aborsi. oleh karena itu dalam satu jam percakapan dengan klien yang satu ini, saya berusaha untuk meyakinkannya untuk tetap mempertahankan janinnya. dan sia-sia.
Sebelum menghadapi klien tersebut, saya berdiskusi dengan seorang kolega tentang kasus seperti ini. dan saya sepakat dengan teman saya tersebut. “Harusnya seseorang berani menghadapi konsekuensi dari perbuatannya”.
Setelah itu saya jadi berpikir banyak. klien tersebut tidak berani menghadapi keluarga dan lingkungannya. dan karena itu memutuskan untuk membuang janin yang sudah tumbuh di perutnya. berarti dia tidak mau mengambil tanggung jawab dari perbuatan yang sudah dilakukannya.
Saya sadar kalau konsep remaja bertanggung jawab tersebut memang mudah untuk diucapkan tetapi amat sulit dilakukan. seandainya seorang remaja benar-benar bertanggung jawab, remaja tersebut tidak akan melakukan hal-hal yang beresiko terhadap dirinya sendiri termasuk melakukan hubungan seks di luar nikah.
Dan akhirnya saya jadi lebih menghargai seorang Sheila Marcia yang berani untuk meneruskan kehamilannya walaupun menghadapi banyak kendala.