tentang selera humor

Saya tahu selera humor setiap orang berbeda. lucu menurut saya, belum tentu lucu menurut anda. seperti yang pernah terjadi ketika saya menonton film ini dan ini, para penonton tertawa terbahak-bahak ketika melihat adegan yang mereka anggap lucu, sementara saya malah tidak mengerti lucunya di mana. Menurut saya Frasier atau Scrubs lucu, belum tentu menurut anda lucu. ada yang mengatakan OVJ lucu, tetapi saya sekarang tidak menikmati menonton OVJ lagi. saya tidak menikmati karena terlalu banyak adegan pukul-pukulan yang tidak lucu sama sekali menurut saya.

tapi satu hal yang sampai sekarang tidak saya mengerti, kenapa ada yang tertawa ketika ada orang lain yang terkena kesialan. terpeleset, jatuh atau semacam itu. i don’t enjoy laughing people while they fall from the tree, for the example. boro-boro nolong, yang terjadi malah diketawain. kalau anda termasuk orang yang bisa mentertawakan diri sendiri ketika ditertawakan oleh orang lain, baguslah. berarti anda tidak akan marah ketika anda terpeleset dan orang mentertawakan anda. sembah sujud saya untuk anda 😀

saya pribadi beranggapan tidak sepatutnya mentertawakan orang yang terkena musibah. sebagai contoh, saya pernah dikejar-kejar ayam jago sehingga kaki saya berdarah terkena tajinya. apa yang terjadi? tak ada satupun orang yang menyaksikan berinisiatif untuk menghalau ayam itu termasuk empunya ayam. yang terjadi saya malah ditertawakan karena mereka menganggap kejadian itu lucu. lebay? coba kalau anda yang ada di posisi saya, apa yang akan anda lakukan?

sungguh, saya tidak mengerti kenapa orang suka mentertawakan orang lain yang mengalami kemalangan. mungkin itulah sebabnya komedi slapstick begitu laku di Indonesia.

11 thoughts on “tentang selera humor

  1. mmm …
    malah ada acara yang khusus “ngerjain orang” … plus ada kata-kata pembenaran … ” … ini hanya untuk hiburan semata …”
    cie cie cie …
    Hiburan kok ngerjain orang …

    salam saya Tik …

  2. Bahagia memang ada seleranya masing-masing, Kak. 😀

    Dulu sekali waktu kecil saya pernah terjatuh dari ayunan. Teman-teman yang melihat tertawa terbahak-bahak. Menangislah aku waktu itu. Karena malu, ditertawakan.

    Tempo lalu saya kembali berkontak dengan salah satu teman kecil yang waktu itu berada di tempat kejadian. Waktu itu dia tidak ikut yang lain menertawakan saya. Ia waktu itu ikutan saya nangis. Apa sebab? Merasa temannya sedemikian kasihan karena ditertawakan secara menyedihkan.

    Tempo lalu itu dia malah yang giliran tertawa terbahak-bahak menceritakan pengalaman saya jatuh dari ayunan dan ditertawakan itu. Baginya sekarang, kejadian itu lucu. Dia ingat persis adegan saya jatuh dari ayunan, yang sedemikian rupa wujudnya memang membuat geli perut siapapun yang melihatnya.

    Lantas apa reaksi saya mendengar itu semua? Saya ikutan latah tertawa. 😀

  3. Humor slapstick memang sebenarnya bukan humor yang sehat. Kecuali jika mungkin dimaksudkan untuk menertawakan diri sendiri. Kukira itu sebab dulu humor slapstick laris, seperti di masa Charlie Chaplin. Cuma ya… terkadang memang terkesan tak asyik (ini sebab aku tak suka dengan Warkop DKI dan sejenisnya). Di Indonesia, humor slapstick ini masih umum -tak tahu pasti juga di luar negeri gimana- yang bisa dilihat sejak jaman film Dono, Ateng, sampai di era masa kini. Apa memang karena kita memiliki budaya suka melihat kesusahan orang atau malah mencoba menertawakan diri sendiri? Meski yang pertama sepertinya tidak, tapi yang belakangan lebih jarang lagi. IMHO.

  4. @Goiq
    akupun tidak menganggap itu hal yang lucu

    @nh18
    bagi beberapa orang memang lucu. tapi mungkin tidak bagi korbannya

    @Farijs
    kalau diingat mungkin memang lucu. tapi pada saat mengalami? apalagi kalau korbannya sampai terluka

    @Alex
    saya lebih suka humor mentertawakan diri sendiri. dari humor yang membuat orang lain mungkin bisa terluka secara fisik.

    • Ya emang gak ada enaknya diketawain saat kita lagi kesakitan. Tapi aku sih selalu berusaha melihat dari sisi yang baik. Kalau jatuh, misalnya, kesakitan tapi malah diketawain, aku bakal mikir dulu jatuhnya memang beneran lucu hingga bisa membuat orang ketawa. Kalau itu yang terjadi, ya sebalnya coba dikurangi. Tapi kalau ketawanya itu rasa-rasanya memang ketawa di atas penderitaan orang lain, ya pasti bakal tetep sebal, lah. 😀

      Sependapat dengan yang lain pula: gak suka acara-acara ngerjain di televisi. Terutama yang ngaget-ngagetin atau nakut-nakutin. Sumpah, kagak ada lucunya itu mah.

  5. Ping-balik: THE NINE FROM THE YELLOW ORCHIDS « The Ordinary Trainer writes …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.