Itikkecil went to the party

Malam minggu kemaren, saya ikutan bapak dan ibu saya pergi ke pesta pernikahan anak salah satu pejabat penting di sini. bukan apa-apa, orangtua saya bahagia sekali kalau ada anaknya yang mau menemani mereka pergi ke acara seperti ini. Iya, tujuan saya ikut sebenarnya buat makan gratis. puas???

Ketika sampai di venue tempat acara, yang diadakan di satu-satunya hotel bintang lima di sini, saya melihat sudah banyak sekali orang yang ada. bapak dan ibu saya langsung sibuk ngobrol dengan teman-teman mereka di sini. tinggallah saya merenung seorang diri *halah*

Merenungi apaan?

have you?

My favorite dialogue from Tyler Perry “Why did I get married?”

I forgot the exact dialogue, but it supposed to be like this :

Diane : Yes, I can hear you…

Terry : I know you can hear me. But, did you listen to me?

Well, apparently there is a difference between hear and listen. so  sweetheart, have you listened to me?

Itikkecil went to cap go meh

Sunday, me and my better half went to Kemaro island in the delta of the Musi River. Before that time I had never gone to the island. When Chika visited Palembang last year, we had a plan to go to the island but since the boat stucked, we canceled our plan. And when we came to the island, the Buddhists were celebrating the cap go meh. There were a lot of people. Not only the Chinese but also the local people visited the island. Unlike the Chinese, the local people came to the island only for recreation. And in my case, only to capture the moment with my camera :mrgreen:

gate of the Kemaro island

gate of the Kemaro island

The cap go meh

Epat, Yudis dan kopdar

Dalam waktu yang beruntun kami bloger Palembang akhirnya menyambut dua orang bloger yang datang ke Palembang untuk kepentingan yang berbeda.
Rangkaian kopdar ini dimulai dengan telpon dari Epat di tengah malam yang membangunkan saya yang sedang enak-enaknya tidur. Epat mengaku sedang ada di kambang iwak besar dan ingin bertemu dengan bloger lainnya.

Kopdarnya…

Pada rapat pagi ini….

Pada rapat pagi ini…
ibu-ibu peserta rapat : “Saya kok tidak rela, kenapa data kekerasan dalam rumah tangga dalam Sumsel dalam angka harus diwakili oleh data LSM. Harusnya, data itu diambil dari instansi kami, bukannya LSM. Data itu tidak bisa dianggap sebagai data resmi di Sumatera Selatan”
Pemimpin rapat :”OK, ibu punya tidak data yang dikumpulkan oleh instansi ibu? Kalau ada akan ditampilkan juga di Sumsel dalam angka”
Ibu-ibu peserta rapat : “tidak ada sih”
Peserta rapat lainnya : ………

note : saya pribadi langsung bilang gubrak, sementara teman saya ingin melemparnya memakai sepatu….

Itikkecil and her big mouth

Judul diambil dari tulisan mbak Fitrie di sini.
Oke, saya akui kalau saya termasuk orang yang riwil. Memang kalau baru pertama kali kenal rata-rata bilang kalau saya pendiam. Tapi kalau sudah lama kenal, biasanya mereka baru sadar kalau saya juga bisa ceriwis :mrgreen: dan amat suka mencela orang termasuk di blog juga.

Dulu, saya pernah crush dengan seseorang. Sempet flirting gak jelas gitu…. Berbanding terbalik dengan si sahabat -yang kemudian jadi pacar- yang introvert dan anak baik-baik, orang ini bener-bener bad boy. Salah seorang sahabat saya yang lain sampai pernah bilang “Gak salah kamu jalan sama anak yang ngasal gitu?”
Yes, he was so popular, dalam hal yang baik maupun yang buruk, aktif di semua kegiatan kampus dan juga terkenal dalam urusan berantem, tapi rasanya semua anak teknik di masa saya kuliah dulu dan angkatan saya juga pernah terlibat dalam berantem massal antar fakultas ataupun antar jurusan.
Tapi kami ended up gak jelas, paling say hi kalau ketemu, hal yang sampai sekarang saya sesali karena saya gak pernah berani mencoba lebih jauh daripada itu.
kok jadi ngelantur gini ya…… Ok, waktu berlalu, kami sama-sama tamat kuliah. Saya tetap di Palembang, dia entah di mana. Tahun segitu, friendster masih happening dan saya menemukannya lagi di friendster, ternyata dia masih ingat saya……. Karena itulah, saya menuliskan sebuah testimonial tentang bagaimana kelakuannya di masa kuliah dulu…
Beberapa hari kemudian, accountnya dihapus. Hal yang sempat membuat saya bingung.

sekian tahun berlalu, dalam konteks yang berbeda, beberapa hari yang lalu seorang sahabat mengatakan kepada saya. “Mbak Ira sih… usil”
Kalimat itu membuat saya tersentak. Sepertinya memang benar, jangan-jangan selama ini saya sudah kelewat usil. Saya lupa, kalau ternyata ada hal-hal tertentu yang memang sebaiknya dibiarkan saja, tidak perlu diungkit dan tidak perlu dikorek-korek.
dalam kasus teman saya yang terdahulu, saya lupa kalau sekarang dia adalah orang yang berbeda, bukan lagi bad boy seperti dulu. Dia sudah jadi orang yang luar biasa sukses. Perkara kelakuannya pada saat kuliah tentu saja bukanlah prestasi yang patut dibanggakan sekarang.

Saya tidak tahu bagaimana caranya untuk minta maaf, karena saya tidak tahu bagaimana cara menghubunginya…. but deep down in my heart, saya benar-benar menyesal…..
Hal ini mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan komentar atau tulisan atau apapun di kemudian hari.

Safety riding, please?

Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman menyetir di malam hari antara Metro dan Bandar Lampung di malam hari yang gelap, hujan deras dan banyaknya pengendara motor yang tidak menghidupkan lampunya.
Saya akui saya juga bukanlah pengendara yang baik-baik amat. SIM saya dapatkan dengan cara nembak, kadang-kadang saya juga pernah melanggar aturan lalu lintas, misalnya parkir sembarangan. Tapi biasanya saya tidak suka melanggar aturan karena saya malas berurusan dengan polisi lalu lintas apalagi kalau sedang menyetir mobil dan ada penumpang bersama saya.
Hal inilah yang sering membuat saya bingung, kadangkala saya mengamati ada saja pengendara motor yang melanggar aturan misalnya menerobos lampu merah, melawan arus, memutar di tempat yang tidak seharusnya ataupun tidak memakai helm. Yang paling parah menurut saya adalah kalau malam hari mengendarai kendaraan bermotor tanpa menghidupkan lampu, yang saya alami malam itu.
Intinya sih gini, kalau misalnya anda mengendarai kendaraan motor sendirian dan mau membahayakan diri anda sendiri, silakan saja. Itu toh nyawa anda sendiri :mrgreen:
Tapi kalau misalnya anda membawa anak dan istri ataupun pacar ataupun selingkuhan, tolong pikirkan keselamatan diri mereka juga pada saat anda memutuskan untuk melanggar aturan lalu lintas…. Hal-hal seperti itu tidak akan bisa digantikan dengan apapun.
Anda bisa menyuap anggota polisi korup jika anda ditilang, tapi siapa yang akan anda suap kalau terjadi apa-apa dengan orang-orang yang anda cintai?

Note : saya tidak bermaksud untuk merampas spesialisasinya om caplang sebagai bloger yang rajin mengkampanyekan Safety riding. Maaf ya say 😀

Cinta tak harus memiliki?

Currently listening (over and over again) : Malaikat juga tahu – Dee Lestari

Saya tersenyum ketika membaca postingan tentang cinta tak harus memiliki di sini. Been there, done that…. Yang saya lakukan ketika itu adalah memendam perasaan saya dan menguburnya sedalam mungkin.
Hanya menjadi pendengar yang baik ketika ia curhat tentang hari-harinya, menyaksikan ia pergi dengan sederet perempuan yang berbeda dan ditolak lagi, mendengarkan curhatnya lagi, jadi tong sampah ketika dia butuh tempat untuk curhat, jadi perempuan cadangan yang diajak ketika tidak ada orang lain lagi yang bisa menemaninya……. selain itu, apa??? Saya hanya bisa meratap tiap malam dan berharap suatu saat dia sadar kalau saya ada dan saya juga punya cinta untuknya.
Yeah…. itulah yang saya dapat karena saya punya prinsip cinta tidak harus memiliki, ketika saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya kepadanya…. Rasa sakit ketika mendengarkannya sakit hati karena ditolak lagi, rasa yang lebih sakit lagi mendengarkan ceritanya tentang acara kencannya bersama orang lain….
Rasa sakit… cuma itu, saya tidak punya kebesaran hati untuk mengakui kalau selama ia bahagia, saya juga bahagia dan saya belum sampai pada konsep unconditional love, belum sampai ke situ, karena ternyata saya lebih mencintai diri saya sendiri, lebih memilih untuk tidak menyakiti diri saya sendiri daripada menyakiti orang yang saya cintai………. Makanya saya pun berkomentar di sini… Cinta tak harus memiliki itu adalah kalimat untuk menghibur diri sendiri ketika kita tidak berani mengungkapkan perasaan kita pada seseorang……
Dan kalaupun suatu saat saya jatuh cinta lagi dengan orang yang berbeda, saya akan memastikan dia tahu perasaan saya padanya, walaupun mungkin akhirnya tidak seperti yang saya harapkan karena saya tidak mau hidup dalam penyesalan……

Soal ketulusan hati, tentu saja saya tulus menjadi tong sampahnya. tapi andai saya tahu perasaannya kepada saya, i can move on… melanjutkan hidup saya dan mencari cinta yang lain