KA Kertalaya

Perjalalanan ke kampus Inderalaya bisa jadi sangat melelahkan. Karena jalan yang masih sempit dan volume kendaraan yang banyak, seringkali jarak 32 km dari kota Palembang ini bisa ditempuh berjam-jam. Banyak yang tidak tahu kalau ada alternatif lain kalau ingin ke Inderalaya dan bebas macet. Naik kereta api jurusan Kertapati-Inderalaya bisa menjadi salah satu pilihana kalau tidak mau terjebak macet berjam-jam lamanya.

Baca lebih lanjut

Kebun Strawberi ‘Purba’ Segamit

Beberapa waktu yang lalu saya diajak ikut penelitian di daerah Semendo Darat Ulu. Jatah waktu buat penelitiannya cuma sekitar 10 hari.  Ternyata waktu yang dipakai buat penelitian dalam sehari paling sekitar sejam sampai dua jam, sisanya dipakai buat makan, tidur dan makan lagi mengecek kembali kuesioner yang sudah diedarkan. Tapi Segamit ini berada jauh di ujung dunia *mulai lebai*. Segamit sendiri berada sekitar delapan jam dari Palembang dan sekitar tiga jam dari Muara Enim. Daerahnya cantik dan setiap sudut kayaknya instagramable *halah*. Udaranya juga sejuk, ya mirip-mirip kalau sedang musim semi di Yurep sana. Macam pernah ke Yurep saja. Selama di sini, saya tidak pernah mandi sore padahal di rumah juga jarang mandi sore *ngaku* dan hampir tidak pernah berkeringat. Jadi menyesal ketika berangkat ke sini tidak membawa coat dan syal, jadinya kan bisa foto ala-ala sedang spring atau autumn di Yurep sana.

diedit, bisa cakep buat dipajang di instagram. #eh

diedit, bisa cakep buat dipajang di instagram. #eh

Baca lebih lanjut

Modernisasi jaringan XL

Sebagai pengguna internet yang lumayan sering tentu saja yang saya dambakan adalah koneksi internet yang stabil dan cepat. Dibandingkan dengan tiga tahun lalu kebutuhan internet saya juga lumayan meningkat karena belakangan ini saya lumayan sering dapat job yang berhubungan dengan koneksi internet. Misalnya, saya juga jadi buzzer buat beberapa produk karena uangnya juga cukup lumayan buat jajan sushi *lah*. Cerita soal jadi buzzer ini saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu ketika kesempatan buat jadi buzzer melayang hanya karena saya tidak membuka email sampai dengan batas waktu yang ditentukan. Sejak saat itulah saya sebisa mungkin selalu terkoneksi dengan internet. Ya bukan apa-apa sih, meskipun uangnya sedikit kalau dikumpulin kan lumayan juga. Baca lebih lanjut

Therapeutic

Gil Grissom dari CSI punya ritual unik kalau sedang suntuk. Ia akan pergi ke roller coaster dan menaikinya tanpa merasa perlu untuk menjerit.
Dan saya menemukan cara untuk menenangkan diri dan menghilangkan perasaan suntuk. Bergelantungan di ban renang dan mengikuti arus di sungai buatan di waterpark. Hanya sendirian dan berdialog dengan diri sendiri itu menyenangkan.

Today

Tugas kelar dan gara-gara disuruh ngejelasin fenomena ayam kfc look alike yang dijual di kaki lima jadi melipir makan sore di kfc. Mihihihi. Tapi saya jadi mikir lo. Apakah saya memilih untuk makan di kfc karena saya menganggap itu sesuatu yang keren atau karena ingin saja. Dan rasanya saya makan di kfc karena ingin. Dan kalau karena ingin, apakah karena sudah terinternalisasi di dalam diri saya bahwa makan di kfc itu adalah sesuatu yang benar (mengingat bahwa kfc adalah junk food yang jelas-jelas tidak sehat). Tapi rasanya dulu sih alasan kenapa sering makan di kfc karena cuma mampu makan paket hemat yang termurah. Sekarang sih sudah males *lirik lingkar pinggang*. Saya sudah lupa kapan terakhir kali makan di kfc sebelum ini. Sekarang saya malah lebih suka makan di bebek slamet. Jadi apakah dengan saya makan di bebek slamet berarti saya melakukan penolakan terhadap penjajahan yang dilakukan kapitalis? #kusut
#yeahright #kusutbeneran
Yang jelas saya sering makan di bebek slamet karena tak ada yang bisa mengalahkan rasa sambel koreknya yang legen.. Wait for it.. Dary *niru barney*

Quote of the day

Jadi, hasil diskusi di kelas hari ini adalah:

“Kalau mau lihat suatu sekolah sudah berhasil atau belum menerapkan pendidikan multikultural, lihat apakah gambar pemandangan muridnya masih berupa dua buah gunung yang di tengahnya ada matahari dan ada sawah dan jalan.”

Sederhana saja, boro-boro mau mengakui adanya keragaman dan kemajemukan budaya kalau murid tidak boleh keluar pakem dalam pelajaran menggambar. Atau tidak boleh melukiskan langit dan laut dengan warna lain selain biru. atau matahari selain dengan warna kuning.