Cerita Gerhana

Agak telat memang :mrgreen:, tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Bukan begitu teman-teman?

Tanggal 9 Maret tadi sepertinya sebagian besar Indonesia tahu kalau ada gerhana matahari total yang melintasi beberapa wilayah di Indonesia. Saya termasuk yang beruntung karena kota tempat saya tinggal Palembang, menjadi wilayah pertama yang akan dilintasi gerhana matahari total ini. Ya, tinggal duduk manis di depan rumah buat nongkrongin mataharinya atau kalaupun tidak terlihat jelas tinggal ngesot ke lapangan deket rumah biar bisa ngelihat proses gerhana mataharinya. Sebenarnya tempat ideal buat melihat proses gerhana matahari total ini salah satunya di atas jembatan ampera. Cuma, saya agak alergi dengan keramaian. Membayangkan untuk berdiri berdesak-desakan demi menonton gerhana sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya. Mending tidur di rumah nonton dari depan rumah saja deh.

Tapi semuanya berubah sejak ada undangan VIP dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel yang ditujukan untuk saya. Undangan VIP! Itu artinya bakal ada tempat duduk dan makan gratisannya juga *muka gratisan*. Apalagi malam sebelumnya saya dengan beberapa blogger yang diundang khusus untuk menghadiri acara ini diinapkan di hotel Batiqa. Alasannya sih masuk akal, biar gak ada yang kesiangan.

Jembatan Ampera jam 5 pagi. Orang-orang sudah mulai memadati jembatan ini

Jembatan Ampera jam 5 pagi. Orang-orang sudah mulai memadati jembatan ini

Long story short, jam 4 subuh saya sudah dibangunkan alarm. Tanpa mandi lagi saya bersama Trisna, teman sekamar saya yang berasal dari Singapore duduk manis di lobby menunggu jemputan bus yang akan membawa kami menuju jembatan ampera. Tepat jam 04.30 bus kami berangkat menuju jembatan ampera. Jalanan masih agak sepi, tapi begitu mendekati benteng kuto besak sudah mulai nampak banyak orang yang berkeliaran di sekitar kawasan ini. Ini orang pada begadang di sini apa ya?

Kami diturunkan di dengan Ampera Center Point dan diminta untuk berjalan kaki ke arah jembatan Ampera. Beramai-ramai kami menuju ke sana, walaupun ada beberapa yang memilih untuk keluyuran di sekitar pasar 16 dan benteng kuto besak. Agak berdesak-desakan ketika naik ke atas jembatan ampera. Jembatan ampera sendiri sudah ditutup sehingga mobil tidak bisa lagi melewati jembatan ini. Orang-orang mulai berduyun-duyun untuk naik ke atas jembatan ampera.

tempat duduk yang disediakan untuk undangan.

tempat duduk yang disediakan untuk undangan.

Berbekal undangan dari Disbudpar, kami bisa masuk. Dan karena masih tidak terlalu banyak orang, kami bisa menempati tempat duduk yang disediakan. Semakin siang, kerumunan orang semakin ramai. Meskipun ada pembatas, beberapa orang bisa masuk meskipun tanpa memegang undangan. Pol PP yang berjaga juga tidak terlalu tegas mengusiri mereka, bagaimana pun juga ini kan pesta semua orang. Setiap orang berhak berada di sana meskipun resikonya tidak mendapatkan tempat duduk. Ataupun kalau pun beruntung bisa juga mendapatkan tempat duduk.

Ketika proses gerhana di mulai. Ini awannya beneran lho ya. bukan awan jadi-jadian.

Ketika proses gerhana di mulai. Ini awannya beneran lho ya. bukan awan jadi-jadian.

Anyway, acara pagi itu meriah, meskipun awan tebal menghalangi matahari bersinar secara sempurna. Saya berdoa dalam hati agar bisa menyaksikan proses gerhana secara sempurna, saya yakin semua fotografer yang nangkring di sekitar situ pun punya doa yang sama. Saya tidak bisa menyaksikan prosesnya secara langsung karena tidak kebagian kacamata gerhana *sedih*. Tapi minjem punya simbok venus sebentar bisa lah mengintip sedikit-sedikit.

@pojiegrapher sedang bikin video proses gerhana matahari total

@pojiegraphy sedang bikin video proses gerhana matahari total

Mendekati jam 7.21 suasana mendadak gelap. Semua orang bersorak ketika gerhana total terjadi dan membentuk cincin. Tapi kegembiraan orang-orang tidak bertahan lama karena ada ‘awan’ yang menghalangi matahari. Meskipun demikian, suasananya membuat saya merinding. Ketika semesta mendadak gelap serupa malam, hampir semua orang bershalawat dan mengucapkan takbir. Itu suasana yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Rasa haru, ada juga sedikit ketakutan dan yang paling penting adalah rasa takjub melihat kegelapan yang terjadi di pagi itu. Apalagi karena katanya, gerhana matahari ini baru akan terjadi lagi 375 tahun lagi ketika sepertinya saya sudah dimakan cacing dan menyatu dengan tanah. Wajar kalau ada yang kecewa dengan adanya ‘awan’ itu.

Setelah kelar proses gerhana, ternyata ada makanan. Kan janjinya memang ada sarapan sensasional di atas jembatan ampera. Beberapa menu disajikan di sini. Ada celimpungan, laksan dan ketupat pangeran. Saya hanya mencoba ketupat pangeran saja. Ada juga food truck yang sengaja diundang juga ke Palembang untuk memeriahkan festival gerhana ini. Sayangnya saya tidak sempat mencicipi semuanya. Mana saya tahu kalau ada password khusus untuk makan gratis.

@trisna_b mencoba ketupat pangeran. Rasanya enak kok.

@trisna_b mencoba ketupat pangeran. Rasanya enak kok.

ketupat pangeran. Sayangnya saya tidak sempat mencicipi makanan lainnya.

ketupat pangeran. Sayangnya saya tidak sempat mencicipi makanan lainnya.

Saya juga ikut merasakan gerhana tahun 1983. Pada saat itu saya dikurung di rumah, tidak boleh ke mana-mana dan hanya menyaksikan gerhana dari televisi saja. Tapi gerhana yang terjadi tahun ini sungguh berbeda. Kalau dulu ada semacam ketakutan yang disebar, saat ini gerhana disambut dengan meriah. Ada kegembiraan menyambut gerhana matahari total ini. Di Palembang sendiri, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menyiapkan festival gerhana untuk menyambut gerhana matahari total ini. Salah satunya adalah dengan menutup jembatan ampera. Kalaupun ada satu hal yang tidak bisa diubah adalah keberadaan ‘awan’ di sekeliling matahari. Tapi, mereka sudah mengupayakan secara maksimal kok. Kalaupun masih ada awan, because it was really complicated *berasa pacaran*.

Turis-turis banyak yang datang, hunian hotel juga penuh. Pempek habis dibeli orang. Man, Palembang pada hari-hari itu sungguh padat dan ramai. Ada banyak teman saya yang sengaja pulang atau datang ke sini demi menyaksikan gerhana secara langsung. Jadi meskipun ada kekurangan di sana-sini, festival gerhana ini termasuk sukses. Terima kasih buat Disbudpar Sumsel atas undangannya. Semoga akan ada lagi event-event pariwisata di sini yang bisa mengundang banyak turis untuk berkunjung ke Palembang.

16 thoughts on “Cerita Gerhana

  1. Ping-balik: Gerhana Matahari Total 2006 di Palembang, Sebuah Perjalanan Spiritual | Venus to Mars

  2. Ping-balik: Cerita sang Pengelana | Life is Beautiful

  3. Ping-balik: Cerita Gua Putri | Life is Beautiful

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s