Fugu Sushi and Bar

Sebagai kota yang semakin berkembang wajar kalau di Palembang semakin bermunculan tempat makan yang dulu tidak terbayangkan bakal ada di sini. Jadi dulu kalau ingin makan sashimi atau sushi, saya harus menunggu kalau ada kesempatan buat terbang ke jakarta. Iya sih, tidak semua tempat makan di jakarta sudah saya datangi. tapi paling tidak sekadar berkunjung ke sushi tei atau takigawa merupakan salah satu tujuan wajib. Itu juga kalau lagi ada duitnya sih #eh. Continue reading

Today

Tugas kelar dan gara-gara disuruh ngejelasin fenomena ayam kfc look alike yang dijual di kaki lima jadi melipir makan sore di kfc. Mihihihi. Tapi saya jadi mikir lo. Apakah saya memilih untuk makan di kfc karena saya menganggap itu sesuatu yang keren atau karena ingin saja. Dan rasanya saya makan di kfc karena ingin. Dan kalau karena ingin, apakah karena sudah terinternalisasi di dalam diri saya bahwa makan di kfc itu adalah sesuatu yang benar (mengingat bahwa kfc adalah junk food yang jelas-jelas tidak sehat). Tapi rasanya dulu sih alasan kenapa sering makan di kfc karena cuma mampu makan paket hemat yang termurah. Sekarang sih sudah males *lirik lingkar pinggang*. Saya sudah lupa kapan terakhir kali makan di kfc sebelum ini. Sekarang saya malah lebih suka makan di bebek slamet. Jadi apakah dengan saya makan di bebek slamet berarti saya melakukan penolakan terhadap penjajahan yang dilakukan kapitalis? #kusut
#yeahright #kusutbeneran
Yang jelas saya sering makan di bebek slamet karena tak ada yang bisa mengalahkan rasa sambel koreknya yang legen.. Wait for it.. Dary *niru barney*

Palembang

Selamat ulang tahun yang ke 1329 Palembang, meskipun kau semakin tua dan semakin banyak menanggung beban, semakin macet, semakin sering banjir dan semakin ramai. Saya tetap selalu mencintaimu. Tetaplah ramah Palembang, meskipun biaya hidup di sini semakin hari semakin mencekik bagi mahasiswa miskin seperti saya.

image

jembatan ampera di malam hari

image

kemacetan di pagi hari

Random assumption

Jika x adalah ekspektasi dan y adalah kenyataan,
n = y – x
di mana, n adalah gap atau selisih antara ekspektasi dan kenyataan.
jika n ≥ 0 maka n menjadi kepuasan, dan jika n < 0 maka n menjadi ketidakpuasan atau kekecewaan.

dengan asumsi bahwa secara umum kita tidak bisa mengontrol variabel y, maka satu-satunya cara untuk membuat n ≥ 0 adalah dengan cara menurunkan nilai variabel x yaitu ekspektasi sehingga kita akan terhindar dari kekecewaan.

Kita? Elo aja kali Ra…

*minggat sebelum dibantai ahli matematika semacam Maridjo*