Skyline, sebuah kesalahan

Karena malam minggu tak ada kegiatan, saya menyeret Suzan untuk menemani saya nonton film di bioskop.
Awalnya Suzan menawari untuk menonton Rapunzel. tapi karena jamnya tidak cocok akhirnya kami memutuskan untuk menonton Skyline.
Sebuah keputusan yang salah…
Pemain yang sama sekali tidak terkenal. saya cuma tahu Eric Balfour dan Scottie Thompson yang sempat bermain sebagai pacar Tony DiNozzo di NCIS. yang lainnya? gak ada πŸ˜€

sinopsisnya : Elaine dan Jarrod berkunjung ke apartemen temannya di LA untuk menghadiri pesta syukuran atau apapunlah itu. Keesokan harinya, ada cahaya biru yang kalau dilihat langsung akan membuat orang yang melihat akan tersedot ke cahaya tersebut. dan sepanjang film, si Elaine dan Jarrod sibuk dikejar-kejar oleh makhluk yang memancarkan cahaya biru tersebut.

Alur cerita yang gak jelas. sampai akhir film saya masih bertanya-tanya apa makhluk yang memancarkan cahaya kebiruan itu. Ending yang tambah gak jelas. sehingga ketika film selesai, reaksi saya adalah “Udah? gitu aja?”

Katanya film ini merupakan film pertama dari rangkaian film yang akan dibuat nantinya. tapi jujur saya, saya tidak akan menantikan lanjutan film ini. sayang saya tidak bisa menuntut kerugian dari biaya yang saya keluarkan karena film ini memang tidak layak untuk ditonton.

Pesan moral yang saya dapat adalah, kalau bikin rumah jangan yang banyak jendela kacanya, nanti bisa terkena sinar biru dan kita akan diculik. sekian.

53 thoughts on “Skyline, sebuah kesalahan

  1. Ga niat nonton yang ini, soalnya rating RottenTomatoes nya ancur banget..

    *Penghuni Bali yang bioskopnya mahal-dan-ga-worth-it-jadi mesti super duper selektif dalam memilih film yang akan ditonton*

  2. Banyak film yang ingin saya tonton, pada akhirnya terlupakan begitu saja karena kalah dengan kesibukan. Apalagi tak ada si sulung yang hobi mengajak orang nonton.
    Lama tak kesini Ira…kabarnya baik-baik aja kan?

  3. Pernah deh kejadian kek gini, mau nonton film yg dimau tapi tapi jamnya ga cocok akhirnya milih fim yg ada. Eee.. filmnya ngebosenin. Baru 15 menitan saya tertidur. Tapi gak nyesel sih, lha wong dibayari :mrgreen:

  4. kalo lanjutannya jg didalam mah mantab.
    ini, nga jelas.

    F-22 dipermalukan
    F-117 gw kirain B-2
    bluah…
    jelas2 dah hancur bsa bangkid lage,
    nga ad alien dari pihak lawan.
    smua hidup dari otak manusia,
    pas pertama kali dtg mreka nga ad ap2 donk?

    trus kok monster mreka udah bsa nerima otak manusia?
    tbuh mreka aj gede.

    otak tuh kek memory, tp ini enggak, fungsinya cuma kasi nyawa,

    bzz…
    KECEWA.

  5. Dari yg kubaca sih, ini film indies πŸ˜†
    Maklum sajalah, film major aja dgn dana melimpah kadang ancur dan bikin kesal, yang ini film indies dengan dana cekak.
    Dana terbatas, plus pembuat filmnya orang2 yg kerjanya bikin special effect.
    Jadinya film hanya menonjolkan kemampuan produser dan sutradaranya: pamer SFX 😈

    btw, kalau liat budget filmnya sih cuma 10 juta USD. Bandingkan dengan film penuh SFX kayak 2012 yang memakan 200 juta USD (20 kali lipat). Atau yang lbh murah kayak The Day the Earth Stood Still nya Keanu Reeves yg menghabiskan 80 juta USD.

    Walau begitu, tetap aja yg namanya film khan jualan cerita, bukan SFX doang. Jadinya emang film ini menyebalkan, walau aku masih agak maklum krn film indies.

    • kalau saya menonton film, saya ingin terhibur… kalaupun alur ceritanya gak jelas. bisa bikin tertawa saja sudah lumayan…
      tapi film ini, sudah membuat penonton bertanya-tanya, lucu juga enggak….
      memang kelemahan film ini dari alur cerita.
      tapi sebenarnya, keterbatasan dana bukan alasan. banyak kok film indie yang ceritanya keren…..

      • dengan keterbatasan dana, apa yg ditampilkan dalam bentuk special effect menurutku luar biasa, patut mendapat acungan jempol. Itu kalau cuma liat SFX dari sebuah film indie doang lho. Emang dari sononya pembuat film ini berniat jualan SFX koq, nggak niat jual cerita 😈

        Kalau liat dari segi cerita, film murah dengan cerita keren tanpa SFX sangat banyak koq. Udah nonton Four Lions buatan sinema indie dari Inggris belum? Salah satu film kritik ttg terorisme terbaik tahun ini, dan itu film dgn biaya murah!

  6. jujur saya juga nyesel nonton ntu film.. ga jelas banget 😦

    eh kemarin saya juga nonton Buried, jujur kesan saya juga nyesel nontonnya..
    tapi mungkin itu pendapat saya saja kali ya..
    πŸ˜€

    Salam kenal

  7. hahahahha… , akhirnya saya ngikut jejak mbak itikkecil yang ke Toilet pas film lagi main, taunya selesai dari Toilet film dah selesai heheheheh .. jadi gak terlalu sakit hatilah, akhirnya hanya seperti itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s