
tiketnya

tiketnya
Gara-gara nonton film “Crazy little thing called love” saya jadi senyum-senyum sendiri mengingat masa SMP saya yang sudah lama berlalu. Rasanya film ini ditujukan buat saya *tsah*
Beberapa hari yang lalu, saya dan teman saya memilih untuk menonton film ini sebagai pengisi waktu luang. semua pencinta novel balai pustaka pasti kenal dengan buku ini. saya sendiri membaca buku ini pada saat saya masih SD dan karena endingnya yang gloomy (in my sotoy opinion) saya memilih untuk tidak membaca buku ini kembali. Continue reading
Yay… saya menemukan idola baru… abang Neal Caffrey.*lirik-lirik Takodok dan Ansella* Continue reading
Siapa tak kenal dia
Boy anak orang kaya
Punya teman segudang
Karena pergaulannya
Baik budi dan tidak sombong
Jagoan lagipula pintar
Oh Boy, cermin anak muda
Seperti ku remaja
Impian kawula muda
Maka tak heran kita
Dia playboy di zamannya
Baik budi dan tidak brutal
Jagoan lagipula pintar
Oh Boy, semua dekat padanya
Kehidupannya tak kenal frustasi
Tiada rumus gengsi
Hatinyapun bersih
Boy Boy Si Boy
Suatu imajinasi anak muda masa kini
Pemuda yang seksi Continue reading
An excerpt from How I Met Your Mother : Desperation Day Continue reading
Saya datang ke bioskop untuk menonton film ini dengan ekspektasi yang rendah. syukur-syukur kalau film ini tidak membuat saya bosan dan jadi gatal buat mencari remote tv biar bisa nonton yang lain *lo kate nonton sinetron Ra?*. Apalagi karena saya nonton juga dibayari maka wajib hukumnya mereview film ini di blog. *Alesan padahal biar ada ide untuk posting malam ini*
I went to the theater with a lot of expectation since it’s Alenia Production. And I always love watching Denias.

Saya bukan akan bercerita tentang ikan hiu. ini adalah cerita tentang film seri Shark yang berkisah tentang Sebastian Stark (James Woods) seorang pengacara Los Angeles narsistik, egomaniak dan karismatik yang mendapatkan julukan shark karena kekejamannya di ruang sidang. Stark menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Pembunuh yang jelas-jelas bersalahpun bisa dinyatakan tidak bersalah oleh juri jika dibela oleh Stark. Stark berubah ketika mendapati seorang klien yang dibelanya membunuh istrinya dalam waktu beberapa hari setelah dibebaskan dari dakwaan penyerangan terhadap istrinya.
Starkpun menyeberang kepada pihak lawan. Dia ditawari untuk memimpin unit kejahatan tingkat tinggi di Kejaksaan Los Angeles. Dan inilah yang sesungguhnya, IMHO, membuat cerita ini menjadi menarik. Sebastian Stark tetap menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan termasuk berbohong kepada hakim. Jika dulu Stark membela pihak yang bersalah sekarang ia berperan dalam menjebloskan pihak yang bersalah. Seperti di Indonesia, tekanan politik juga ditunjukkan di serial ini. beberapa kali walikota mencoba untuk mengintervensi jika ada kasus yang berhubungan dengan penyokong utama politik sang walikota. sounds familiar, eh?
Setiap kali menonton serial ini saya jadi berkhayal, andai saja ada pengacara di Indonesia yang bersedia menyeberang ke pihak yang berlawanan dan menghalalkan segala cara untuk menjebloskan koruptor ke penjara, mungkin saja kasus korupsi di Indonesia akan berkurang. tetapi mungkin saja saya cuma bermimpi. sayangnya serial ini cuma dibuat dua season saja 😦
Adalah Bertie, anak kedua yang selalu menjadi bayang-bayang kakaknya dan sejak usia 4 tahun menjadi gagap. Sebagai seorang Duke of York, salah satu tugasnya adalah berpidato. dan bayangkanlah siksaan yang dialami seseorang yang gagap untuk bisa berpidato dengan sempurna di depan publik.