Pertanyaan hari ini

sebagai seorang pejalan kaki saya bertanya : “wahai para pengendara, kenapa kalian sepertinya enggan memberikan kesempatan pada kami sebagai pejalan kaki untuk menyeberang di zebra cross?”

sebagai seorang pengendara mobil (kadang-kadang) saya menjawab : “mungkin karena sering sekali saya males untuk menginjak rem.”

bagaimana dengan anda?

have you?

My favorite dialogue from Tyler Perry “Why did I get married?”

I forgot the exact dialogue, but it supposed to be like this :

Diane : Yes, I can hear you…

Terry : I know you can hear me. But, did you listen to me?

Well, apparently there is a difference between hear and listen. so  sweetheart, have you listened to me?

Itikkecil and her big mouth

Judul diambil dari tulisan mbak Fitrie di sini.
Oke, saya akui kalau saya termasuk orang yang riwil. Memang kalau baru pertama kali kenal rata-rata bilang kalau saya pendiam. Tapi kalau sudah lama kenal, biasanya mereka baru sadar kalau saya juga bisa ceriwis :mrgreen: dan amat suka mencela orang termasuk di blog juga.

Dulu, saya pernah crush dengan seseorang. Sempet flirting gak jelas gitu…. Berbanding terbalik dengan si sahabat -yang kemudian jadi pacar- yang introvert dan anak baik-baik, orang ini bener-bener bad boy. Salah seorang sahabat saya yang lain sampai pernah bilang “Gak salah kamu jalan sama anak yang ngasal gitu?”
Yes, he was so popular, dalam hal yang baik maupun yang buruk, aktif di semua kegiatan kampus dan juga terkenal dalam urusan berantem, tapi rasanya semua anak teknik di masa saya kuliah dulu dan angkatan saya juga pernah terlibat dalam berantem massal antar fakultas ataupun antar jurusan.
Tapi kami ended up gak jelas, paling say hi kalau ketemu, hal yang sampai sekarang saya sesali karena saya gak pernah berani mencoba lebih jauh daripada itu.
kok jadi ngelantur gini ya…… Ok, waktu berlalu, kami sama-sama tamat kuliah. Saya tetap di Palembang, dia entah di mana. Tahun segitu, friendster masih happening dan saya menemukannya lagi di friendster, ternyata dia masih ingat saya……. Karena itulah, saya menuliskan sebuah testimonial tentang bagaimana kelakuannya di masa kuliah dulu…
Beberapa hari kemudian, accountnya dihapus. Hal yang sempat membuat saya bingung.

sekian tahun berlalu, dalam konteks yang berbeda, beberapa hari yang lalu seorang sahabat mengatakan kepada saya. “Mbak Ira sih… usil”
Kalimat itu membuat saya tersentak. Sepertinya memang benar, jangan-jangan selama ini saya sudah kelewat usil. Saya lupa, kalau ternyata ada hal-hal tertentu yang memang sebaiknya dibiarkan saja, tidak perlu diungkit dan tidak perlu dikorek-korek.
dalam kasus teman saya yang terdahulu, saya lupa kalau sekarang dia adalah orang yang berbeda, bukan lagi bad boy seperti dulu. Dia sudah jadi orang yang luar biasa sukses. Perkara kelakuannya pada saat kuliah tentu saja bukanlah prestasi yang patut dibanggakan sekarang.

Saya tidak tahu bagaimana caranya untuk minta maaf, karena saya tidak tahu bagaimana cara menghubunginya…. but deep down in my heart, saya benar-benar menyesal…..
Hal ini mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan komentar atau tulisan atau apapun di kemudian hari.

Cinta tak harus memiliki?

Currently listening (over and over again) : Malaikat juga tahu – Dee Lestari

Saya tersenyum ketika membaca postingan tentang cinta tak harus memiliki di sini. Been there, done that…. Yang saya lakukan ketika itu adalah memendam perasaan saya dan menguburnya sedalam mungkin.
Hanya menjadi pendengar yang baik ketika ia curhat tentang hari-harinya, menyaksikan ia pergi dengan sederet perempuan yang berbeda dan ditolak lagi, mendengarkan curhatnya lagi, jadi tong sampah ketika dia butuh tempat untuk curhat, jadi perempuan cadangan yang diajak ketika tidak ada orang lain lagi yang bisa menemaninya……. selain itu, apa??? Saya hanya bisa meratap tiap malam dan berharap suatu saat dia sadar kalau saya ada dan saya juga punya cinta untuknya.
Yeah…. itulah yang saya dapat karena saya punya prinsip cinta tidak harus memiliki, ketika saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya kepadanya…. Rasa sakit ketika mendengarkannya sakit hati karena ditolak lagi, rasa yang lebih sakit lagi mendengarkan ceritanya tentang acara kencannya bersama orang lain….
Rasa sakit… cuma itu, saya tidak punya kebesaran hati untuk mengakui kalau selama ia bahagia, saya juga bahagia dan saya belum sampai pada konsep unconditional love, belum sampai ke situ, karena ternyata saya lebih mencintai diri saya sendiri, lebih memilih untuk tidak menyakiti diri saya sendiri daripada menyakiti orang yang saya cintai………. Makanya saya pun berkomentar di sini… Cinta tak harus memiliki itu adalah kalimat untuk menghibur diri sendiri ketika kita tidak berani mengungkapkan perasaan kita pada seseorang……
Dan kalaupun suatu saat saya jatuh cinta lagi dengan orang yang berbeda, saya akan memastikan dia tahu perasaan saya padanya, walaupun mungkin akhirnya tidak seperti yang saya harapkan karena saya tidak mau hidup dalam penyesalan……

Soal ketulusan hati, tentu saja saya tulus menjadi tong sampahnya. tapi andai saya tahu perasaannya kepada saya, i can move on… melanjutkan hidup saya dan mencari cinta yang lain

Saya memalingkan muka

Entah mengapa, saya selalu memalingkan muka melihat kemiskinan terpampang di depan mata. Bukan kemiskinan yang dipamerkan oleh para peminta-minta di pinggir jalan, bukan pula kemiskinan yang dipamerkan oleh para peminta sumbangan bagi panti asuhan yang entah panti asuhannya berada di mana.

Tapi kemiskinan yang memaksa seorang bapak tua tetap menarik becak walaupun hari hujan, kemiskinan yang memaksa seorang anak kecil tetap berjualan koran di hari yang terik untuk biaya sekolahnya ataupun kemiskinan yang memaksa seorang ibu tetap membanting tulang walaupun sedang hamil tua.

Saya memalingkan muka bukan karena saya tidak peduli. Saya memalingkan muka, karena ternyata tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menolong mereka. ternyata memang tidak ada yang saya lakukan untuk mereka.

*menunduk malu*

update : terima kasih untuk mbak ana atas tulisannya yang sudah menginspirasi tulisan ini.

11 Juni satu tahun yang lalu

Harusnya posting ini dibikin tanggal 11 Juni tadi. sayangnya pada tanggal itu saya sedang sibuk jalan-jalan ke puskesmas dan rumah sakit di daerah dan jauh dari internet.

11 Juni satu tahun yang lalu, postingan hello world dari wordpress saya mutilasi dengan semena-mena menjadi postingan berjudul I love you because you are not perfect. postingan yang ditujukan untuk belahan jiwa saya *terdengar suara muntah dari kejauhan*

Dan satu tahun setelah itu :

117 postingan, 4.762 komentar dan 28.268 kunjungan

lumayan untuk blog tentang curhat yang gak penting seperti blog ini.

Selama ini saya selalu merasa tidak punya ruang untuk diri saya sendiri. tapi di blog ini saya menemukan tempat yang tepat bagi saya untuk menuliskan apapun. di blog ini saya juga menemukan banyak teman. terima kasih untuk semua teman-teman yang setia berkomentar dan juga mau chatting dan meladeni pertanyaan konyol dan tidak penting dari saya. terima kasih juga buat semua teman-teman yang sudi kopdar dengan saya selama ini.

Laki-laki yang patut diperebutkan sampai mati versi saya

Ada pertanyaan yang membuat saya berpikir cukup lama untuk menjawabnya di sini.

Jadi laki-laki seperti apa yang pantas diperebutkan sampai titik darah penghabisan, Tik ?

Iya, laki-laki seperti apa? saya sempet googling dengan keyword “laki-laki yang patut diperebutkan sampai mati”, ternyata nomor satunya blog saya sendiri 😳

Dulu, saya melihat laki-laki itu lebih dari segi fisiknya. Menurut saya cowok yang bermata sipit itu seksi sekali. Jadi pria-pria seperti Richard Gere, Andy Lau ataupun Takuya Kimura bisa membuat saya histeris.

Seiring dengan bertambahnya keuzuran usia saya tentu saja saya melihatnya dengan sudut pandang berbeda. Cowok bermata sipit tentu saja tetap membuat saya deg-degan, tapi apa harus ngotot mengejarnya? Saya adalah orang yang realistis, jadi kalau sudah jadi milik orang lain ngapain di kejar-kejar.

Tapi kalau ditanya laki-laki seperti apa yang patut diperebutkan sampai mati, saya sekarang punya jawabannya tentu saja versi saya sendiri. Dan inilah laki-laki yang patut diperebutkan sampai mati versi Ira Hairida Yuliani :

Laki-laki yang patut……….

Pelangi

Ada yang pernah mengatakan ke saya, untuk melihat pelangi kita harus membuat hujan. Walaupun hujannya mungkin saja deras dan membuat kita basah kuyup.

And I’m still waiting for the rainbow in my life. Eventough I have to wait for a lifetime.

pelangi

PS : Saya melihat pelangi ini bersama si nyet. Gambar diambil sore hari dengan kamera pocket. Maafkan kalau gambar pelanginya tidak terlalu kelihatan.