Saya memalingkan muka

Entah mengapa, saya selalu memalingkan muka melihat kemiskinan terpampang di depan mata. Bukan kemiskinan yang dipamerkan oleh para peminta-minta di pinggir jalan, bukan pula kemiskinan yang dipamerkan oleh para peminta sumbangan bagi panti asuhan yang entah panti asuhannya berada di mana.

Tapi kemiskinan yang memaksa seorang bapak tua tetap menarik becak walaupun hari hujan, kemiskinan yang memaksa seorang anak kecil tetap berjualan koran di hari yang terik untuk biaya sekolahnya ataupun kemiskinan yang memaksa seorang ibu tetap membanting tulang walaupun sedang hamil tua.

Saya memalingkan muka bukan karena saya tidak peduli. Saya memalingkan muka, karena ternyata tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menolong mereka. ternyata memang tidak ada yang saya lakukan untuk mereka.

*menunduk malu*

update : terima kasih untuk mbak ana atas tulisannya yang sudah menginspirasi tulisan ini.

102 thoughts on “Saya memalingkan muka

  1. Selalu menyedihkan memang berada di posisi tersebut, namun kadang kita salah, bahwa mungkin sebenarnya mereka justru lebih “bahagia” dari kita yang lebih berkecukupan.

    Hal yang membuat saya takut adalah, semakin banyak dan seringnya pemandangan tersebut membuat saya semakin kebal dengannya dan lama-lama abai. semoga saja tidak… amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.