Itikkecil dan peluang usaha terbarunya

Ada satu peluang usaha yang sepertinya akan laris kalau dijalankan *nyengir kuda gak jelas*

Bagaimana kalau seandainya kita membuka biro perjalanan yang mengkhususkan diri pada wisata bencana. toh sepertinya bencana pasti selalu ada. dan sepertinya orang indonesia suka sekali sekadar bertandang ke tempat yang tertimpa bencana. bukan untuk menolong tentunya… tapi lebih sekadar melihat-lihat…

Tapi Ra, kan bisa mengganggu proses evakuasi atau pencarian korban…

ow, tentunya bisa disiasati dengan cara berpura-pura menolong padahal cuma sekadar foto-foto di sana…. Dan tempat berkunjung pasti selalu ada… ke Jombang, melihat siapa tahu ada korban Ponari lagi yang tewas pas sedang antri… atau ke Sidoarjo, sekadar melihat lumpur lapindo yang hanya Tuhanlah yang tahu kapan lumpur itu berhenti mengalir… atau yang terbaru, ke Situ Gintung…..

*bertanya-tanya, ini sudah cukup sarkastis belum*

Pertanyaan hari ini

sebagai seorang pejalan kaki saya bertanya : “wahai para pengendara, kenapa kalian sepertinya enggan memberikan kesempatan pada kami sebagai pejalan kaki untuk menyeberang di zebra cross?”

sebagai seorang pengendara mobil (kadang-kadang) saya menjawab : “mungkin karena sering sekali saya males untuk menginjak rem.”

bagaimana dengan anda?

Itikkecil went to the party

Malam minggu kemaren, saya ikutan bapak dan ibu saya pergi ke pesta pernikahan anak salah satu pejabat penting di sini. bukan apa-apa, orangtua saya bahagia sekali kalau ada anaknya yang mau menemani mereka pergi ke acara seperti ini. Iya, tujuan saya ikut sebenarnya buat makan gratis. puas???

Ketika sampai di venue tempat acara, yang diadakan di satu-satunya hotel bintang lima di sini, saya melihat sudah banyak sekali orang yang ada. bapak dan ibu saya langsung sibuk ngobrol dengan teman-teman mereka di sini. tinggallah saya merenung seorang diri *halah*

Merenungi apaan?

Itikkecil went to cap go meh

Sunday, me and my better half went to Kemaro island in the delta of the Musi River. Before that time I had never gone to the island. When Chika visited Palembang last year, we had a plan to go to the island but since the boat stucked, we canceled our plan. And when we came to the island, the Buddhists were celebrating the cap go meh. There were a lot of people. Not only the Chinese but also the local people visited the island. Unlike the Chinese, the local people came to the island only for recreation. And in my case, only to capture the moment with my camera :mrgreen:

gate of the Kemaro island

gate of the Kemaro island

The cap go meh

Epat, Yudis dan kopdar

Dalam waktu yang beruntun kami bloger Palembang akhirnya menyambut dua orang bloger yang datang ke Palembang untuk kepentingan yang berbeda.
Rangkaian kopdar ini dimulai dengan telpon dari Epat di tengah malam yang membangunkan saya yang sedang enak-enaknya tidur. Epat mengaku sedang ada di kambang iwak besar dan ingin bertemu dengan bloger lainnya.

Kopdarnya…

Pada rapat pagi ini….

Pada rapat pagi ini…
ibu-ibu peserta rapat : “Saya kok tidak rela, kenapa data kekerasan dalam rumah tangga dalam Sumsel dalam angka harus diwakili oleh data LSM. Harusnya, data itu diambil dari instansi kami, bukannya LSM. Data itu tidak bisa dianggap sebagai data resmi di Sumatera Selatan”
Pemimpin rapat :”OK, ibu punya tidak data yang dikumpulkan oleh instansi ibu? Kalau ada akan ditampilkan juga di Sumsel dalam angka”
Ibu-ibu peserta rapat : “tidak ada sih”
Peserta rapat lainnya : ………

note : saya pribadi langsung bilang gubrak, sementara teman saya ingin melemparnya memakai sepatu….

Safety riding, please?

Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman menyetir di malam hari antara Metro dan Bandar Lampung di malam hari yang gelap, hujan deras dan banyaknya pengendara motor yang tidak menghidupkan lampunya.
Saya akui saya juga bukanlah pengendara yang baik-baik amat. SIM saya dapatkan dengan cara nembak, kadang-kadang saya juga pernah melanggar aturan lalu lintas, misalnya parkir sembarangan. Tapi biasanya saya tidak suka melanggar aturan karena saya malas berurusan dengan polisi lalu lintas apalagi kalau sedang menyetir mobil dan ada penumpang bersama saya.
Hal inilah yang sering membuat saya bingung, kadangkala saya mengamati ada saja pengendara motor yang melanggar aturan misalnya menerobos lampu merah, melawan arus, memutar di tempat yang tidak seharusnya ataupun tidak memakai helm. Yang paling parah menurut saya adalah kalau malam hari mengendarai kendaraan bermotor tanpa menghidupkan lampu, yang saya alami malam itu.
Intinya sih gini, kalau misalnya anda mengendarai kendaraan motor sendirian dan mau membahayakan diri anda sendiri, silakan saja. Itu toh nyawa anda sendiri :mrgreen:
Tapi kalau misalnya anda membawa anak dan istri ataupun pacar ataupun selingkuhan, tolong pikirkan keselamatan diri mereka juga pada saat anda memutuskan untuk melanggar aturan lalu lintas…. Hal-hal seperti itu tidak akan bisa digantikan dengan apapun.
Anda bisa menyuap anggota polisi korup jika anda ditilang, tapi siapa yang akan anda suap kalau terjadi apa-apa dengan orang-orang yang anda cintai?

Note : saya tidak bermaksud untuk merampas spesialisasinya om caplang sebagai bloger yang rajin mengkampanyekan Safety riding. Maaf ya say 😀