an excerpt from hellboy
I can promise you only two things :
One, I’ll always look this good.
two, I won’t give up on you. ever.
an excerpt from hellboy
I can promise you only two things :
One, I’ll always look this good.
two, I won’t give up on you. ever.
itu pertanyaan yang sering ditanyakan banyak orang ke saya. “Dapat apa kamu dari ngeblog?” Terutama beberapa orang yang melihat untung rugi dari suatu hal. Jujur saja, bisa dikatakan tidak ada keuntungan materi yang saya dapatkan dari ngeblog karena saya memang tidak mencari uang dari sini.
Tapi buat saya pribadi, tidak semua hal bisa diukur dengan uang. tidak semua hal harus dikonversikan menjadi uang. karena yang saya dapat dari sini tidak bisa diukur dengan uang karena nilainya melebihi uang.
sebagai contoh, kemampuan saya bersosialisasi dengan orang lain jauh membaik. memang selama ini saya bersosialisasi dengan banyak orang, tapi karena pekerjaan. jarang saya bersosialisasi karena saya memang ingin. dan sebagai akibatnya saya bagaikan katak dalam tempurung. merasa diri paling hebat dan yang paling parah tergantung pada satu orang. menurut saya itu kondisi yang menyedihkan dan harus diperbaiki. sekian lama saya mencari cara untuk memperbaiki diri saya, akhirnya saya berhasil setelah banyak bertemu orang baru terutama anak-anak wongkito dan kopdarjakarta.
berlebihan? mungkin saja. tapi ini satu hal lagi. saya menjadi terbiasa untuk menuangkan pikiran saya ke dalam tulisan walaupun niatan saya untuk memperbaiki bahasa inggris saya sepertinya belum berhasil juga *sigh*. Dan saya juga belajar untuk berargumentasi dengan cerdas dan belajar untuk mendengarkan orang lain. melalui blog juga pengetahuan saya bertambah karena saya jadi terbiasa membaca tulisan-tulisan orang lain mengingat ada seribu lebih blog yang saya langgani walaupun tidak semuanya bisa dikomentari. – soal kenapa saya tidak komentar ini mungkin bisa dibuat menjadi tulisan lain-.
Kalau saya kebetulan pergi ke kota lain, saya tidak perlu khawatir karena biasanya ada saja blogger yang bisa ditemui dan syukur-syukur bisa menjadi pemandu jalan selama di sana.
Dan yang terpenting adalah, ngeblog membuat saya tetap waras walaupun masalah selalu saja ada dalam hidup saya.
Itu yang saya dapat dari blog. Bagaimana dengan anda?

my new book
Hari ini saya mulai dengan mood yang buruk setelah membaca koran kompas edisi hari ini dan menemukan kalau PLN meminta maaf atas pemadaman listrik terus-menerus dan pelayanannya yang dianggap tidak memuaskan… yeah, kalo orang Jakarta aja yang protes, buru-buru minta maaf. coba kalau orang di daerah lain…. 🙄
bermula dari tweet di twitter oleh takodok dan galeshka tentang menyembunyikan tangis dalam hujan, saya jadi teringat lagu lama banget…. judulnya Crying in the rain. sebenarnya sih ada lagu lain yang mirip-mirip juga, I’m still in love with you oleh Nicos Icnatiadis. tapi saya lebih suka lagu ini…… Inilah liriknya…

ternyata yang cantik yang menang...

jari tanganku.... dan sampai sekarang belum ilang juga bekasnya di kuku...
Enter your password to view comments.
Gak ada kerjaan, dan ditag oleh tante ini, sebagai bloger yang baik saya mencoba untuk mengerjakan pe er berikut ini
The Rules :
The rules are simple. Use google image to search the answers to the quetions below. Then you must choose a picture in the first page of results, and post it as your answer. After that tag 7 people.
Judul diambil dari tulisan mbak Fitrie di sini.
Oke, saya akui kalau saya termasuk orang yang riwil. Memang kalau baru pertama kali kenal rata-rata bilang kalau saya pendiam. Tapi kalau sudah lama kenal, biasanya mereka baru sadar kalau saya juga bisa ceriwis dan amat suka mencela orang termasuk di blog juga.
Dulu, saya pernah crush dengan seseorang. Sempet flirting gak jelas gitu…. Berbanding terbalik dengan si sahabat -yang kemudian jadi pacar- yang introvert dan anak baik-baik, orang ini bener-bener bad boy. Salah seorang sahabat saya yang lain sampai pernah bilang “Gak salah kamu jalan sama anak yang ngasal gitu?”
Yes, he was so popular, dalam hal yang baik maupun yang buruk, aktif di semua kegiatan kampus dan juga terkenal dalam urusan berantem, tapi rasanya semua anak teknik di masa saya kuliah dulu dan angkatan saya juga pernah terlibat dalam berantem massal antar fakultas ataupun antar jurusan.
Tapi kami ended up gak jelas, paling say hi kalau ketemu, hal yang sampai sekarang saya sesali karena saya gak pernah berani mencoba lebih jauh daripada itu.
kok jadi ngelantur gini ya…… Ok, waktu berlalu, kami sama-sama tamat kuliah. Saya tetap di Palembang, dia entah di mana. Tahun segitu, friendster masih happening dan saya menemukannya lagi di friendster, ternyata dia masih ingat saya……. Karena itulah, saya menuliskan sebuah testimonial tentang bagaimana kelakuannya di masa kuliah dulu…
Beberapa hari kemudian, accountnya dihapus. Hal yang sempat membuat saya bingung.
sekian tahun berlalu, dalam konteks yang berbeda, beberapa hari yang lalu seorang sahabat mengatakan kepada saya. “Mbak Ira sih… usil”
Kalimat itu membuat saya tersentak. Sepertinya memang benar, jangan-jangan selama ini saya sudah kelewat usil. Saya lupa, kalau ternyata ada hal-hal tertentu yang memang sebaiknya dibiarkan saja, tidak perlu diungkit dan tidak perlu dikorek-korek.
dalam kasus teman saya yang terdahulu, saya lupa kalau sekarang dia adalah orang yang berbeda, bukan lagi bad boy seperti dulu. Dia sudah jadi orang yang luar biasa sukses. Perkara kelakuannya pada saat kuliah tentu saja bukanlah prestasi yang patut dibanggakan sekarang.
Saya tidak tahu bagaimana caranya untuk minta maaf, karena saya tidak tahu bagaimana cara menghubunginya…. but deep down in my heart, saya benar-benar menyesal…..
Hal ini mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan komentar atau tulisan atau apapun di kemudian hari.
Currently listening (over and over again) : Malaikat juga tahu – Dee Lestari
Saya tersenyum ketika membaca postingan tentang cinta tak harus memiliki di sini. Been there, done that…. Yang saya lakukan ketika itu adalah memendam perasaan saya dan menguburnya sedalam mungkin.
Hanya menjadi pendengar yang baik ketika ia curhat tentang hari-harinya, menyaksikan ia pergi dengan sederet perempuan yang berbeda dan ditolak lagi, mendengarkan curhatnya lagi, jadi tong sampah ketika dia butuh tempat untuk curhat, jadi perempuan cadangan yang diajak ketika tidak ada orang lain lagi yang bisa menemaninya……. selain itu, apa??? Saya hanya bisa meratap tiap malam dan berharap suatu saat dia sadar kalau saya ada dan saya juga punya cinta untuknya.
Yeah…. itulah yang saya dapat karena saya punya prinsip cinta tidak harus memiliki, ketika saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya kepadanya…. Rasa sakit ketika mendengarkannya sakit hati karena ditolak lagi, rasa yang lebih sakit lagi mendengarkan ceritanya tentang acara kencannya bersama orang lain….
Rasa sakit… cuma itu, saya tidak punya kebesaran hati untuk mengakui kalau selama ia bahagia, saya juga bahagia dan saya belum sampai pada konsep unconditional love, belum sampai ke situ, karena ternyata saya lebih mencintai diri saya sendiri, lebih memilih untuk tidak menyakiti diri saya sendiri daripada menyakiti orang yang saya cintai………. Makanya saya pun berkomentar di sini… Cinta tak harus memiliki itu adalah kalimat untuk menghibur diri sendiri ketika kita tidak berani mengungkapkan perasaan kita pada seseorang……
Dan kalaupun suatu saat saya jatuh cinta lagi dengan orang yang berbeda, saya akan memastikan dia tahu perasaan saya padanya, walaupun mungkin akhirnya tidak seperti yang saya harapkan karena saya tidak mau hidup dalam penyesalan……
Soal ketulusan hati, tentu saja saya tulus menjadi tong sampahnya. tapi andai saya tahu perasaannya kepada saya, i can move on… melanjutkan hidup saya dan mencari cinta yang lain