Soegija

Soegija

Sebagai seorang muslim, saya tidak terlalu kenal siapa itu Soegija, setahu saya, Soegijapranata adalah nama salah satu universitas di Semarang tempat saya pernah tinggal selama dua tahun ketika masih kecil dulu. Tetapi semakin tua dan semakin banyak membaca saya akhirnya tahu bahwa Soegija adalah seorang uskup pribumi pertama di Indonesia.

Ketika tahu bahwa Garin Nugroho membuat film tentang Soegija saya langsung ingin menonton film ini karena menurut saya, film-film tentang biografi tokoh terkenal itu biasanya menarik. contohnya film Sang Pencerah yang dibuat oleh Hanung Brahmantyo. Saya menyeret si pacar yang dengan enggan menemani saya untuk menonton film ini. Saya sempat memperkirakan kalau mungkin sedikit yang akan menonton film ini di Palembang.  tetapi perkiraan saya salah, ketika saya membeli tiket di sore hari untuk pemutaran jam 7 malam, bagian tengah bioskop sudah sold out. masih untung ada yang di bagian agak ke pinggir.

Soegija bercerita tentang hari-hari Soegija sebagai uskup pribumi pertama ketika menghadapi jaman penjajahan Belanda, Jepang dan kemerdekaan Indonesia. selain itu juga masih ada beberapa tokoh lain yang cukup menjadi sentral dalam film ini. Ada Hendrick, wartawan dan fotografer Belanda yang jatuh cinta dengan Mariyem.  Mariyem yang terpisah dari kakaknya Maryono. Ada Lingling yang terpisah dari ibunya dan ada juga Nobuzuki yang seorang tentara Jepang.

Terus terang saja saya agak sedikit kecewa karena ternyata kisah tentang Soegija  itu harus dibagi dengan tokoh-tokoh lain yang saya tidak tahu apakah itu fiksi atau benar-benar ada. saya membayangkan film Soegija merupakan biopic. Sayangnya mungkin tidak terlalu benar. film ini tidak menceritakan tentang pribadi Soegija secara mendalam. kita hanya tahu bahwa ia mendukung Indonesia. kita hanya tahu bahwa baginya menjadi katolik adalah juga menjadi orang indonesia tanpa ada penjelasan kenapa. Karena film ini dimulai dari ketika Soegija diangkat sebagai uskup kemudian bergeser ke era penjajahan Jepang dan  era kemerdekaan Indonesia.

Secara  sinematografi dan musik film ini sangat menarik tetapi ya itu tadi terlalu banyak tokoh lain di dalam film ini yang sesungguhnya tidak perlu. tetapi memang banyak adegan dan dialog yang membuat saya terus memikirkannya bahkan ketika selesai menonton film ini. adegan yang paling menyentuh menurut saya adalah ketika Soegija menatap para imam dan biarawati asal Eropa yang digiring Jepang untuk ditahan dan kemudian kosternya bertanya, “Lantas, apa yang harus kita kerjakan romo?” Soegija terdiam dan kemudian menjawab, “ada kalanya kita tidak bisa melakukan apa-apa.” sambil tergugu. bisa dilihat sebagai ketidakberdayaan tapi bisa dilihat bahwa airmata yang tumpah itu bukan karena pencitraan tapi karena memang sebagai pemimpin ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa untuk rakyatnya.

selain itu dialog-dialognya banyak yang masih relevan sampai saat ini. seperti ketika ia berpesan kepada seorang umatnya setelah indonesia merdeka dan perang usai. “Jadi politikus itu harus punya mental politik. jika tidak maka yang tertinggal adalah kekuasaan. Jika itu yang terjadi maka kamu akan menjadi benalu bagi rakyat Indonesia.” *lirik sinis para politikus busuk yang berkantor di Senayan.

Atau bagaimana seorang pemimpin harusnya bertindak. ketika masa penjajahan Jepang, seorang lurah bercerita bahwa rakyat mengirimkan makanan ke romo dan suster Belanda yang berada di interniran Jepang karena kasihan melihat penderitaan mereka. Soegija mengatakan, “saat ini rakyat sudah banyak menderita. kasihan mereka. jika rakyat kenyang, maka imam kenyangnya belakangan. tapi jika rakyat kelaparan, maka seharusnya imam adalah yang pertama kelaparan.”

Yang menarik adalah Soegija langsung mengakui kemerdekaan Indonesia. ia memindahkan keuskupan semarang ke jogja karena ibukota RI pindah ke sana. dan karena diplomasinya juga Vatikan akhirnya mengakui negara Indonesia. mungkin karena itulah ia ingin menarik batas antara orang Indonesia katolik dan Belanda. bahwa menjadi katolik bukanlah menjadi orang Belanda. Karena meskipun sebagai uskup ternyata masih ada orang Belanda yang tetap merasa superior:

Robert: Ngapain kamu ke sini?
Hendrick: Mau ambil foto uskup Jawa pertama. harga fotonya nanti pasti akan mahal.
Robert: Eh, tapi nanti kamu harus mencium tangannya lho
Hendrick: Entahlah, sepertinya mungkin harus cium tangannya.
Robert: Kalau begitu, setelah mencium tangannya kau harus mencuci tanganmu bersih-bersih karena tangannya pasti bau kerbau.

Film ini memang lebih banyak bercerita tentang kemanusiaan. bagaimana seorang pemimpin sejati harusnya bertindak. dan dari awal sampai akhir film ini saya tidak menemukan satu ayatpun dari injil kalau lagu pujian sih memang ada. jadi memang film ini bisa ditonton semua kalangan kok. Akting Nirwan Dewanto sebagai Soegija juga bagus, meskipun ia bukan katolik tapi tampil meyakinkan sebagai seorang uskup. Butet Kartaredjasa juga lumayan menyelamatkan film ini walaupun menurut saya dagelan di film ini terlalu banyak untuk film yang seserius ini.

Jadi ya… kalau mau tahu lebih banyak tentang Soegija mending cari buku biografinya aja deh kalau ada. tetapi kalau ingin mendapat pencerahan tentang bagaimana seorang pemimpin itu harusnya bertindak film ini layak ditonton.

Rate: 7/10

PS: Gambar dicolong dari sini.

PS Lagi: kalau mau lebih lengkap tentang Soegija, bisa baca tulisan mas Iman Brotoseno di sini.

8 thoughts on “Soegija

  1. ulasannya menarik. biasanya saya tidak pernah tertinggal menonton film2 baru, dan sepertinya film ini menarik. Sosok Soegija baru kali ini saya ketahui, dan semoga saya pun mendapat kesan yang mendalam tentangnya nanti setelah menonton film ini. thanks ya 🙂

  2. Saya baca resensinya …
    dan juga cerita dibalik layar …
    Adegan yang Ira Itik ceritakan … dimana dia duduk diam ketika melihat imam dan biarawati digelandang itu …
    akting pemerannya (Nirwan Dewanto) spontan … dan tidak diatur sebelumnya

    Salam saya

  3. Ping-balik: Malas Menyesal | nicampereniqué.me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.