Currently listening (over and over again) : Malaikat juga tahu – Dee Lestari
Saya tersenyum ketika membaca postingan tentang cinta tak harus memiliki di sini. Been there, done that…. Yang saya lakukan ketika itu adalah memendam perasaan saya dan menguburnya sedalam mungkin.
Hanya menjadi pendengar yang baik ketika ia curhat tentang hari-harinya, menyaksikan ia pergi dengan sederet perempuan yang berbeda dan ditolak lagi, mendengarkan curhatnya lagi, jadi tong sampah ketika dia butuh tempat untuk curhat, jadi perempuan cadangan yang diajak ketika tidak ada orang lain lagi yang bisa menemaninya……. selain itu, apa??? Saya hanya bisa meratap tiap malam dan berharap suatu saat dia sadar kalau saya ada dan saya juga punya cinta untuknya.
Yeah…. itulah yang saya dapat karena saya punya prinsip cinta tidak harus memiliki, ketika saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya kepadanya…. Rasa sakit ketika mendengarkannya sakit hati karena ditolak lagi, rasa yang lebih sakit lagi mendengarkan ceritanya tentang acara kencannya bersama orang lain….
Rasa sakit… cuma itu, saya tidak punya kebesaran hati untuk mengakui kalau selama ia bahagia, saya juga bahagia dan saya belum sampai pada konsep unconditional love, belum sampai ke situ, karena ternyata saya lebih mencintai diri saya sendiri, lebih memilih untuk tidak menyakiti diri saya sendiri daripada menyakiti orang yang saya cintai………. Makanya saya pun berkomentar di sini… Cinta tak harus memiliki itu adalah kalimat untuk menghibur diri sendiri ketika kita tidak berani mengungkapkan perasaan kita pada seseorang……
Dan kalaupun suatu saat saya jatuh cinta lagi dengan orang yang berbeda, saya akan memastikan dia tahu perasaan saya padanya, walaupun mungkin akhirnya tidak seperti yang saya harapkan karena saya tidak mau hidup dalam penyesalan……
Soal ketulusan hati, tentu saja saya tulus menjadi tong sampahnya. tapi andai saya tahu perasaannya kepada saya, i can move on… melanjutkan hidup saya dan mencari cinta yang lain
kalau ada yang tanya apakah saya jatuh cinta lagi, jawabannya tidak….
tapi saya mengenang kembali ketika pertama kali jatuh cinta padanya 😀
ya… kalimat cinta tak harus memiliki itu hanya terdengar seperti menghibur…
malaikat juga tahu, aku yang jadi juaranya 🙂
Sebenarnya cinta tidak harus memiliki itu karena belum mengungkapkan perasaan atau sudah saling mengungkapkan cuma kondisi tidak memungkinkan?
Mungkin perlu dikaji lagi.
*sok serius*
Mbak, sontrek nya mesti diganti jadi “Aku Ada” kalo ceritanya begitu
@nike
malaikat juga tahu
@dana
bisa juga karena situasi yang tidak memungkinkan… tapi dalam situasi saya, karena saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya….
terlepas dari nantinya orang itu mencintai saya atau tidak itu sudah soal lain…..
yang penting saya tidak hidup berandai-andai….
@chic
itu lagunya siapa???
Pingback: Mencintai atau dicintai ? | Jurnalnya Nike
sabar banget nie yang sebagai “tong sampah”.
kayaknya makan hati banget
ihihihihi itu adalah kalimat sakti mandraguna saya kalau lagi patah hati, apapun filosifi didalamnya, mau orang ngomong apa… saya cuman bisa mendapatkan penawar dari luka hati ketika saya patah hati^^ apapun itu.. kalimat itu masih berguna untuk saya, mau di bilang gagal jg gpp koq.. karena kita tidak akan pernah belajar kalau tidak pernah gagal 🙂
@marsini
jadi tong sampah kalau sebagai teman sih buat saya gak masalah, karena itulah gunanya teman. yang jadi masalah adalah kalau ada perasaan yang saya pendam.
@ninoy
patah hati menurut saya sih hal yang wajar. karena kita tidak mungkin memaksa orang lain untuk mencintai kita. tapi mungkin kita harus mencoba dulu. bagaimana mau bilang gagal kalau tidak dicoba sama sekali
hehehehehhehhe… cinta dan memiliki itu enggak ada hubungan nya sama sekali kok malahan mbak..
hehe..kena bgt..
makanya diungkapin atuh, biar beliau tahu, eh tapi udah tahu deng, ya? hihihi
“daun pergi, karena angin ataukah pohon tak meminta tinggal?”
kalo sudah mentok, ya begitulah penghiburan yg terakhir…
*selalu ada sebuah alasan untuk sebuah kegagalan
😆
“Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya”
Hayooo…. Semangat Jeeeng ….. 😀 semoga di pertemukan seseorang yang lebih baik darinya
setuju, mbak!
move on terasa lebih gampang waktu kita udah ga punya lagi perasaan yang tertinggal..
btw, biasanya *mengutarakan perasaan* itu adalah jurus terakhir saya sebelum akhirnya saya bertekad untuk move on..
*mengenang jaman2 itu*
sama sayah mbaks? 😳
aduuh, kalau saya sih, cinta harus saya miliki, kalau enggak repot dong 🙂
mbak… saya bisa mbayangin rasanya gmn.. beruntung sekali sang lelaki punya sahabat (atau mantan pacar ya, maaf saya ga ngikutin) kyk mbak..
kl selamanya akan seperti ini.. sebaiknya menurut saya mbak jujur sm dia ato let him go.. out of your mind.. so itik kecil akan melangkah..mencoba menjelajah ke lain hati 😉
jadi teringat lagunya radja band yg TULUS..
dadam..dadam.oi
dadam..dadam..oi 😀
ah..bullsh*t lah itu. 😀
*kabur sebelum dipentung*
na, inilah yang sering membuat saya bingung, kenapa kok banyak menghubungkan cinta dengan ‘memiliki’ ? apakah memiliki artinya cinta?
kalo saya ‘cinta itu dimiliki’, bukan cinta yang punya sesuatu tapi sesuatu yang punya cinta.
kalo cinta harus memiliki, itu bukan cinta, atau paling nggak tidak 100% cinta.
*hiks, mungkn gara2 pendirian saya yang seperti ini sampe sekarang belum dapet calon istri…
** kalo soal unconditional love, saya kira hanya cinta seorang ibu kepada anak lah yang bisa dikategorkan untuk cinta jenis ini, walau saya sempet dinobatkan memiliki sifat ini sama bang Eby.
Kalau cinta versi saya, harus memiliki
Kalau bisa memiliki kenapa ndak ya kan?
*kesummon trekbek*
ngg… turut berduka cita mbak… 😐
*tidak tau lagi mo bilang apa*
*dah ada semua di post sendiri*
alangkah senangnya klo bisa memiliki yang dicintai, lebih senang. tapi klo ga bisa pun…klo diusahain ga bisa pun, yah..berarti dia bukan yang terbaik dan yang terbaik udah ada menanti kita
Cinta itu apa dulu??
do you know what? I love this post!
hehehe… aku pun dulu jg pernah begitu.
tp skrg lbh brani ngambil resiko menyakiti diri sendiri dr pd menyesal di kemudian hari karena ga pernah tau perasaannya… *curcor* 😛
Alow mbak salam kenal, ikutan nimbrung donk boleh khan??
CINTA TAK HARUS MEMILIKI?
kalo menurutku itu bohong,mbak.
Aku pernah ngalami gitu dulu, dan saat itu aku bilang begitu tapi makin lama aku makin sadar bahwa yang aku rasakan saat itu bukan CINTA tapi rasa penasaran aja pada cinta monyetku 🙂
Tenang, mbaak… Masih banyak ikan di laut. Pancing teroooossss! *digetok mba ira*
sunggguhhh menyedihkan kalo cinta tak bisa memiliki……… jangan putus asa aja mbak……. pasti satu saat ada kok yang bisa dimiliki skaligus dicintai……… tukeran link dunk!!!
cinta tidak harus memilikinya jadi kalimat penghibur ya mba? mencoba bersabar di dalam harap? ah… itu ndak enak sekali kayanya ya?…. -japs-
Ira, jadi ingat lagunya Sting yang ini;- If You Love Somebody Set Them Free.
berbicara soal cinta memang selalu menarik.
satu kata “cinta” menebar berjuta cerita dan inspirasi.
karena manusia tidak dapat hidup tanpa cinta
AGH! KENAPA TOPIKNYA INI LAGEE SEEEHHH?! 😈
*eh, kok kapital smua?* 😛
Been there, done that. Jd “subtitute person”? Pernah.. dan rasanya masih 😐
Cuma skrg soundtracknya Cicak di Dinding (Rectoverso jg). Duh, mulia sekali saya 😆
Ah, jd pengen posting jg. Tapi kapan2 deh
iya banget mbak.. rugi banget kalo kita mencintai orang tanpa dia tau perasaan kita. capek sendiri, sakit sendiri, yang dipikirin tetap melenggang dengan riang tanpa menyadari uda bikin dunia kita jungkir balik karenanya.
cinta tak harus memiliki, karena ternyata memiliki pun blum tentu mencintai 😀
mungkin perlu diperbandingkan dgn ungkapan “cinta tak harus dimiliki”. hwehe.
v(^_^)
cinta sejati? keknya stlh nikah, baru deh bisa ngomong. hoho.
makanya, berani mengungkapkan perasaan…. 😆
Serius lho, sebagian besar ketegangan mental itu terjadi karena tidak berani/mampu/mau mengungkapkan perasaan. Perempuan atau laki-laki sama aja, Ra…
Saya juga kalau suka sama seseorang biasanya langsung ngomong. Kalau masalah ditolak sudah bosan….
saya tau rasanya loh…tapi lets move on..
tulisan yang dalem.. ak tau rasanya gmn =(
tetap semangat!!!
biarlah rasa itu berlalu…. *melanjutkan hidup saya dan mencari cinta yang lain*
Cinta ditolak dukun bertindak
*walaupun kedengarannya basi, tapi masih up to date dalam kondisi tertentu*
ahhh baca postingan ini jadi terkenang2 kepada seseorang yang tak bisa kumiliki dan memiliku…halahhh…..
Gak papalah juragan jaditongsampah untuk soal ini.. satu pahala buatmumeringankanpenderitaan seorang sahabat.. kedua mengembangkan kemampuan sebagaiseroang kounselor.. jadibesok2 bisa pasangtarif perjam sekian gitu 😀
Namun demikian, kunci penyelesaian hanya ada pada diri si ybs.. you are just there to ensure she/he will make the informed decision timely.
kalo aku ga terlalu ngerti cinta sih.. aku mah hidup ngeceng deh! cinta kurang asik kalo dibawa serius. hihi. salam kenal ya mbak 🙂
Wah, paling nikmat emang gitu, ketika kita mencintai seseorang namun ngga berharap untuk memiliki, tapi dimiliki…. hehehe
Ahh Itik kecil…bagaimana kalau kalimatnya diganti
….”Cinta harus diperjuangkan”……
Bagiku cinta harus diperjuangkan, kalau udah mengalah bahwa cinta tak harus memiliki, itu hanya meredam agar tak sakit hati.
Tapi, apa sih sebetulnya cinta itu? Setelah menangis mengharu biru…beberapa bulan kemudian sudah bisa tersenyum lagi….(jangan sampai ada kalimat, cintamu kubawa mati…)
wew, baca komen di mba edratna, setuju setuju….
cinta tak harus memiliki terkadang sangat mudah untuk diucapkan tapi begitu sulit untuk dijalani saat mendapati orang yang selama ini sudah berada disisi kita ternyata menaruh hati dan cintanya untuk orang lain…