#119 itikkecil dan satu jam terpanjang dalam hidupnya

Rute saya setiap hari ketika pulang ke rumah, terutama kalau membawa mobil adalah melewati Benteng Kuto Besak. memang ada rute lainnya, tetapi entah kenapa saya lebih suka melewati benteng kuto besak dan pasar 16 ilir baru kemudian naik ke jembatan ampera untuk pulang ke rumah. Rasanya ada perasaan senang tak terkira setiap kali melihat jembatan ampera dari arah benteng kuto besak. call me corny, but i always feel at home every time I see Ampera Bridge.

Dan hari ini seperti biasa saya melewati lagi daerah benteng kuto besak untuk pulang ke rumah. salah satu alasan lain kenapa saya suka melewati daerah ini karena kalau malam tidak terlalu ramai dan viewnya indah dengan lampu-lampu yang menghiasi pinggiran sungai musi. hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke rumah. cuma dua kali saya terjebak kemacetan di sini. pertama kali adalah pada saat konser Yovie dan Nuno – tidak terlalu lama, cuma tiga puluh menit dan saya lumayan terhibur dengan lagu Manusia biasa, saya ikutan sing along juga – dan yang kedua kalinya pada saat final piala AFF antara Indonesia dengan Malaysia, entah siapa yang punya ide mengadakan nonton bareng di sana.

Harusnya saya menyadari tadi pada saat saya berbelok ke arah benteng kuto besak itu. banyak banget ABG yang berduyun-duyun ke arah sana ditambah lagi fakta bahwa mereka rela berjalan kaki dari jauh, harusnya saya sadar ada sesuatu yang busuk *eh*. Sepuluh meter pertama masih lancar jaya. lama kelamaan tersendat dan akhirnya berhenti sama sekali.

Lelah menggerutu tak henti akhirnya yang bisa saya lakukan adalah mengamati keadaan di sekeliling saya. banyak ABG yang berboncengan berdua. banyak juga yang tidak mengenakan helm. lebih banyak lagi ABG yang secara legal seharusnya belum boleh mengendarai motor. lumayan banyak juga ABG perempuan yang menggunakan celana superpendek yang membuat saya jadi iri. bukan karena kemulusan paha mereka. tapi karena keberuntungan mereka yang bisa menggunakan celana super pendek  di malam hari tanpa resiko masuk angin. berbeda dengan saya yang meskipun sudah memakai jaket dan celana panjang tetap berisiko ingusan jika diterpa angin malam.

Capek mengamati para ABG, saya beralih mengamati banyaknya keluarga muda yang membawa anak-anaknya menikmati konser malam ini. kalau tidak salah besok mereka harus sekolah bukan? Atau sekarang sedang libur ya? Jaman dahulu kala, ketika saya masih SD, berani nonton televisi lewat jam sembilan malam resikonya adalah lampu rumah dimatikan. bapak saya memang sadis ya 😆 Bandingkan dengan para bapak dan ibu yang dengan sukarela mengajak anaknya menonton project pop.

Project Pop masih menyanyikan lagu Ayo goyang duyu. harusnya saya ikut bergoyang juga. tapi rasa capek, ngantuk, lapar dan esmosi akibat antrian membuat saya malah sibuk memaki-maki sendiri. capek memaki-maki, pandangan saya beralih ke motor di sebelah saya. ada seorang ibu menggendong anaknya yang saya yakin umurnya tak lebih dari satu tahun. Bisa jadi mereka sama seperti saya, terjebak dalam antrian ini meskipun ada hal lain yang dituju. tetapi ternyata si bapak menghentikan motornya dan berusaha untuk parkir di pinggir jalan.

WTF! itu yang ada dalam pikiran saya. Ibu macam apa yang membawa anak bayinya demi sebuah konser. Saya memang belum menjadi ibu. dan ada yang bilang kalau jangan pernah mengadakan tidak akan kalau belum pernah berada pada situasi itu. tetapi yang jelas meskipun yang mengadakan konser itu U2, saya tak akan mengajak bayi saya untuk datang ke konser tersebut di malam hari. Saya jadi kasihan dengan bayinya yang terpaksa menghirup asap kendaraan bermotor dan asap rokok dari banyak orang. well, semoga bayinya sehat-sehat saja.

Sudah hampir satu jam di sini. I can’t, I don’t and I won’t enjoy the concert. mobil ini hanya bergeser 30 cm setiap kali maju dan entah berapa liter bensin terbuang percuma hanya karena terjebak dalam antrian ini. emosi saya sudah benar-benar tak terkendali lagi. seandainya ada senapan otomatis, jangan-jangan sudah saya pakai untuk menembaki orang-orang yang menghalangi jalan saya *mendadak jahat*. Dan akhirnya sayapun pasrah. kalau beruntung, siapa tahu satu jam lagi saya sudah sampai di rumah.

Tak lama kemudian, ada orang yang menggedor mobil saya. saya sudah panik karena saya kira ada berandalan yang iseng melakukannya. ternyata seorang bapak polisi yang menyuruh saya untuk memutar balik. dan  di belakang saya sudah tidak ada lagi antrian kendaraan. Terpujilah wahai bapak polisi yang baik. akhirnya saya tidak harus menunggu lebih lama lagi.

Dan pelajaran yang saya dapat malam ini :

  • hafalkan jadwal konser di BKB
  • jangan sekali-kali pakai celana superpendek kalau tidak mau dicela orang iri seperti saya
  • jangan pernah membawa bayi untuk menonton konser di malam hari.
  • jangan sekali-kali membawa senapan otomatis *eh*

11 thoughts on “#119 itikkecil dan satu jam terpanjang dalam hidupnya

  1. aku juga paling tidak terima setiap melihat bayi dan anak-anak yang dibawa-bawa ortu yg mencari kesenangan semata, tanpa memperhatikan kesehatan di anak. Sama juga dnegan waktu aku melihat si ibu asyik telepon2an pakai HP atau BB an sementara sang bayi menangis di dalam kereta dorongnya 😦 Atau orang tua asyik meroko di dekat anak-anak. HUH!
    Yurusanai! Tidak terima!

    EM

  2. @billy
    ini pan bukan jakarta…

    @mbak Imel
    sabar mbak… saya juga sebal dengan ibu yang mengabaikan anaknya hanya demi nonton konser. kalau memang ingin sekali menonton, kenapa bayinya tidak ditinggal di rumah saja.
    dapat kata baru nih 😀 yurusanai!

  3. ada yang bilang kalau jangan pernah mengadakan tidak akan kalau belum pernah berada pada situasi itu.

    Tidak mengerti bagian ini.. :mrgreen:

    Susahnya nyetir sendirian ya mbak, kalo jalanan lagi gak lancar, gak ada temen cerita tuk meringankan kekesalan. 😉

    btw celana superpendek tuk cewek itu penemuan jenius lho! *eh*

    • typo cinta… maksudnya mengatakan bukan mengadakan…
      saya malah suka nyetir sendirian… bisa nyanyi-nyanyi sendiri lho… *eh*
      saya tak pernah berminat memakai celana superpendek itu… dilihat juga gak bakalan bagus…

  4. Hoho. Celana superpendek, ya? (mmm)

    Kalau saya selalu sebal ketika ada ibu-ibu yang membiarkan anaknya berdiri di tengah boncengan motor. Meskipun dipegangi, apakah si ibu (dan juga si bapak yang mengendarai motor) tidak berpikir bagaimana sangat berisikonya, amat sangat bisa mencelakakan anaknya. Ya meskipun anak itu ada karena si bapak dan ibunya bersenang-senang, tidakkah anak juga amanah dari Tuhan yang harus mereka jaga? (doh)

  5. Ping-balik: Wajah Baru Jembatan Palembang | Itik Kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s