Cerita Vaksin

Setelah satu tahun lebih hiatus di blog, akhirnya saya tergerak juga untuk menulis lagi di blog ini setelah membaca posting tentang vaksin di sini dan di sini. Setelah dipikir-pikir, peristiwa divaksin ini harus dimasukkan di milestone dan ditulis di blog ini.

Awalnya ketika pertama-tama diumumkan kalau Sinovac yang akan dipakai untuk vaksin di Indonesia saya sempat skeptis karena sepertinya Sinovac bukan merupakan perusahaan yang cukup dikenal dan sempat ada beberapa kontroversi terkait vaksin ini. Tetapi ketika akhirnya, BPOM mengeluarkan izin emergency saya percaya karena menurut saya BPOM merupakan salah satu institusi yang kredibel dan dapat dipercaya *uhuk vaksin uhuk Nus *ilang sinyal*

Sebagai rakyat jelata tentu saja akses ke vaksin sangat sulit apalagi saya tinggal di daerah. Tetapi saya terus berusaha menyarankan orang-orang yang punya akses duluan ke vaksin untuk vaksin. Apakah tyda ngeselin kalau kita ingin divaksin terus ada orang yang dapet privilege buat vaksin malah menolak. Walaupun belum bisa divaksin itu tidak membuat saya menjadi kecewa karena bisa jadi alasan buat menolak ajakan ke luar kota lagian gila aja ke luar kota buat liburan di masa seperti ini.

Akhir bulan Juni saya mendapatkan informasi dari saudara yang bekerja di kantor kecamatan kalau ada Puskesmas yang sedang melaksanakan vaksin masal di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah saya. Berbekal peta dari google map saya menuju ke sana. Ternyata vaksinnya diadakan di rumah salah satu bidan untuk menjaring para lansia agar mau divaksin. Untungnya rakyat jelata macam saya bisa ikutan divaksin. Btw, karena masih awal jadinya tidak terlalu berdesakan karena saya agak parno kalau ketemu kerumunan. Sempat terjadi salah paham karena saya pikir setelah mendaftar di whatsapp saya cukup menunggu dipanggil saja, ternyata saya salah. Harusnya menyerahkan KTP untuk didaftarkan dan mengikuti pre-screening.

nungguin giliran divaksin

Pada saat pre-screening sempat terjadi drama, tensi saya di atas dua ratus. Tentu saja cukup membuat panik karena saya selama ini tdak pernah mengalami tekanan darah tinggi kecuali kalau lagi nonton drama macam penthouse atau membaca komentar goblo netijen di media sosial. Ternyata tensimeter digitalnya rusak dan ketika diperiksa dengan menggunakan tensimeter lainnya tekanan darah saya normal. Akhirnya disuruh untuk menunggu antrian untuk disuntik. Pada saat sebelum disuntik tentu saja saya masih sempat-sempatnya meminta bantuan kepada salah satu petugas puskesmas untuk mengabadikan momen bersejarah ini.

Sempat-sempatnya minta foto

Setelah disuntik saya disuruh menunggu 15 menit untuk memastikan tidak ada kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI. Dan setelah mendapatkan kartu vaksin saya diperbolehkan pulang.

Sampai ke rumah masih aman-aman saya. Tapi efek vaksin pertama yang saya rasakan adalah saya jadi selalu merasa lapar, dan setelah sekian lama siang itu saya makan ayam kaefsi 3 potong. Setelahnya saya masih makan lagi dua kali. Efek lainnya adalah drowsy. Jam delapan malam biasanya saya sedang menonton drama Korea, tetapi malam itu saya sudah tertidur. Besok paginya sama saja, saya bangun sebentar untuk sarapan dan setelahnya tidur lagi. Karena saya masih bekerja dari rumah, saya bekerja sebentar dan siangnya tidur lagi. Sempat ketiduran buat event sore dan syukurlah terbangun sepuluh menit sebelum acara dimulai. Tapi efek ini hanya berlangsung selama dua hari. Kalo soal lapar, nampaknya memang karena saya suka makan sih. Setelahnya semuanya kembali normal. Sertifikat vaksin muncul di aplikasi Peduli Lindungi sehari setelahnya.

Untuk vaksin kedua, saya sempat ragu karena Palembang dilanda kelangkaan vaksin dosis pertama. Tetapi berdasarkan informasi yang saya dapatkan untuk vaksin dosis kedua sudah disiapkan di masing-masing tempat kita vaksin dosis pertama. Sehari sebelumnya saya mengkonfirmasi lewat whatsapp dan diminta untuk langsung datang ke Puskesmas sebelum jam delapan pagi.

Jam setengah delapan saya sudah mengantri untuk mendaftar, ternyata sebenarnya diminta untuk membawa kartu vaksin yang lupa saya bawa. Untung petugas puskesmasnya baik, saya tetap didaftarkan dengan menyerahkan KTP. Di Puskesmas tidak nampak antrian panjang seperti di tempat lain karena untuk yang ingin mendapatkan vaksin dosis pertama harus mendaftar dulu melalui whatsapp sehari sebelumnya.

Ngantri di Puskesmas

Kali ini tidak terjadi kesalahpahaman seperti pada saat vaksin pertama, tensimeter digitalnya bekerja dengan baik sehingga saya dinyatakan layak untuk mendapatkan vaksin kedua. Vaksin dimulai pas jam delapan pagi, dan proses vaksin berjalan cukup cepat sehingga saya dipanggil jam 8.45. Seperti biasa saya meminta tolong petugas puskesmas untuk mengabadikan foto saya ketika divaksin. Btw, outfit saya di vaksin pertama dan kedua ini sama, menggunakan kaus lengan pendek dan ditutupi jaket. Jaket tinggal dibuka ketika suntik disehingga tidak terlalu merepotkan.

Akhirnya dua kali vaksin

Ketika saya sedang menunggu, nampak beberapa wartawan wara-wiri di sekitar lokasi vaksin. Infonya Wakil Walikota Palembang mau berkunjung dan benar saja ketika saya sedang menunggu setelah divaksin, ibu Wawako datang dan memberikan sambutan serta membagikan masker kain. Anyway, setelah kehebohan usai kartu vaksin saya selesai dan saya diperbolehkan pulang.

Hari itu efek vaksinnya belum terlalu terasa, tetapi keesokan harinya mulai terasa tidak enak badan. Saya masih tetap bisa bekerja walaupun badan masih terasa meriang. Baru hari Minggu malam saya merasa hidung saya buntu dan tidak enak badan. Senin pagi saya merasa badan sakit dan kepala pusing sehingga saya minta cuti sakit dari kantor. Mungkin saja efeknya terasa karena hari itu juga hari pertama saya menstruasi. Keesokan harinya meskipun badan masih terasa tidak enak saya akhirnya kembali bekerja. Dan badan meriang serta kepala pusing ini masih berlangsung sampai hari Kamis. Setelah itu mulai terasa mendingan.

Meskipun sudah divaksin secara penuh tentu saja saya masih menghindari keluar rumah untuk keperluan tidak penting dan bertemu orang lain. Apalagi semakin banyak teman-teman saya yang positif Covid meskipun sudah divaksin. Saat ini saya hanya ke luar rumah untuk berbelanja kebutuhan harian dan belum berani untuk dine-in di restoran. Dengan varian Delta yang semakin menggila nampaknya lebih aman untuk di rumah saja.

8 thoughts on “Cerita Vaksin

  1. waktu vaksin kedua ga bawa kartu vaksin juga karena hilang lupa disimpan dimana haha, tapi ada datanya di aplikasi pedulilindungi jadi aman2 aja dan dikasih kartu vaksin baru. daftar yang jam 11 dan sudah tiba 10.30 tapi dipanggilnya baru jam 12 lewat karena yg slot jam 10 ngaret selesainya. sistem antriannya jauh lebih bagus yang vaksin pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.