Apa itu VCT

Agak serius dikit ah……… gak ada salahnya kalo sayah mencoba untuk memberikan informasi tentang VCT, secara sayah adalah konselor gadungan VCT yang sudah dipensiunkan secara paksa.

VCT atau Voluntary Counseling and Testing adalah tes HIV yang dilakukan secara sukarela. Karena pada prinsipnya tes HIV tidak boleh dilakukan dengan paksaan atau tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.

Siapa aja yang sebaiknya melakukan VCT…..

  1. Para homok orang yang melakukan hubungan s*ksual berisiko. Hubungan berisiko ini bukan hanya hubungan dengan pekerja s*ks, g*golo ataupun waria. Hubungan s*ksual dengan orang yang tidak diketahui status HIV nya bisa juga dianggap hubungan berisiko .
  2. Orang yang pernah menerima transfusi darah.
  3. Pengguna narkoba suntik.
  4. Orang yang mengalami Infeksi Menular S*ksual berulang.

Apa aja yang dilakukan pada saat VCT?

Ada beberapa tahapan VCT, tahapan pertama adalah pre konseling, pada tahap ini yang dilakukan adalah pemberian informasi tentang HIV dan AIDS, cara penularan, cara pencegahannya dan periode jendela. Kemudian konselor dilaksanakan penilaian risiko klinis. Pada saat ini, klien harus jujur tentang hal-hal berikut : kapan terakhir kali melakukan aktivitas s*ksual, apakah menggunakan narkoba suntik, pernahkah melakukan hal-hal yang berisiko pada pekerjaan – misalnya dokter ataupun calon dokter– dan apakah pernah menerima produk darah, organ atau sp*rma. Konselor VCT biasanya terikat sumpah untuk merahasiakan status si klien. Jadi jangan khawatir untuk mengakui dosa-dosa menceritakan kegiatan-kegiatan berisiko yang telah dilakukan. Hampir kelupaan, pada saat melakukan VCT pastikan konseling dilakukan di tempat tertutup dan menjamin privacy. Dan kalo penilaian risiko klinis dilakukan di muka umum, jangan mau. Karena ada aja konselor brengsek yang mengejar target biar dapet duit.

Kalo sudah selesai pre konseling, konselor akan menawarkan kepada klien apakah bersedia untuk melakukan tes HIV. Jangan khawatir, kalo misalnya ragu-ragu untuk melakukan tes dan tidak mau gak masalah. Konselor tidak akan memaksa klien untuk melakukan tes HIV. Bisa kembali lagi kapan saja. Dan kalo klien mau tes HIV, konselor akan memberikan informed consent atau izin dari klien untuk melakukan tes HIV. di surat pernyataan ini klien menyatakan bahwa klien yang bersangkutan telah menerima informasi yang berhubungan dengan tes ini, HIV dan telah menjalani penilaian risiko klinis. Klien juga menyatakan kalo dirinya bersedia untuk di tes HIV.

Pada saat melakukan tes HIV darah kita akan diambil secukupnya. Dan pemeriksaan darah ini bisa memakan waktu antara setengah jam sampai satu minggu – tergantung jenis tes HIV yang dipakai – Biasanya klien disuruh pulang dan kembali lagi mengambil hasil tes beberapa hari setelahnya.

Kalau klien berubah pikiran dan gak mau ngambil hasil tes terserah, toh konselornya gak akan nyari-nyari kayak debt collector nyari pengemplang utang. Tapi kalo klien memutuskan untuk mengambil hasil tes, klien akan menjalani tahapan post konseling. Pada tahapan ini, konselor akan memberitahukan hasil tes. Kalau hasil tesnya negatif, balik lagi ke penilaian risiko klinis -inilah pentingnya bagi kita untuk menjawab dengan jujur- Kalau dari penilaian risiko klinis, klien masih dalam masa periode jendela – periode jendela adalah periode di mana orang yang bersangkutan sudah tertular HIV tapi antibodinya belum membentuk sistem kekebalan terhadap HIV dan hasil tes HIV nya masih negatif, meski belum terdeteksi tapi sudah bisa menularkan – klien akan dianjurkan untuk melakukan tes kembali tiga bulan setelahnya. Selain itu, bersama-sama dengan klien konselor akan membantu klien untuk merencanakan program perubahan perilaku.

Bagaimana kalau hasil tes positif????

Errr……… terimalah nasibmu *halah*. Becanda ding. Kalau hasil tes positif, klien bebas untuk mendiskusikan perasaannya dengan konselor. Konselor juga akan menginformasikan fasilitas untuk tindak lanjut dan dukungan. Misalnya, jika klien membutuhkan terapi ARV ataupun dukungan dari kelompok orang-orang senasib sebaya. Selain itu, konselor juga akan memberikan informasi tentang cara hidup sehat dan bagaimana cara agar tidak menularkan ke orang lain.

Yang patut diperhatikan!!!!!!

  1. Hasil tes HIV adalah rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh konselor dan klien saja. Klien dapat menuntut apabila ternyata hasil HIV bocor ke orang lain yang tidak berwenang. Kalaupun klien dirujuk dan artinya informasi tentang status HIV klien harus diberitahukan ke orang lain, harus dengan persetujuan klien.
  2. Proses VCT yang benar memegang teguh privacy dan juga memastikan kalau klien melakukan VCT dengan sukarela. Kalau anda dipaksa untuk melakukan tes HIV tanpa konseling, jangan mau. Anda dapat menuntut pihak yang memaksa anda untuk melakukan tes VCT.

sumber : Manual pelatihan konselor VCT, Depkes RI

46 thoughts on “Apa itu VCT

  1. @Rizma
    perlu… perlu dan dianjurkan… tapi gak usah vct di palembang, di jakarta aja……. di sini agak error. langsung suspicious pasti positif nanti hasil tesnya di sebar ke mana mana

  2. emmm mau nanya nih….

    kan virus HIV tuh berdaur lisogenik dan salah satu bagiannya adalah fase pembelahan.

    Kan pada fase tersebut DNA virus tidak aktif, lalu bagaimana cara mengetahui adanya virus ini bila sewaktu dites kebetulan sedang masa fase pembelahan ??

  3. @purmana
    euh…. pertanyaan sulit. Dan to be honest, maaf sayah gak tau. Soalnya selama ini saya cuma jadi konselor gadungan. Pemeriksaan HIV biasanya dirujuk di laboratorium.

    *ngeles mode on*

  4. Bisa juga gak kasih info kira-kira berapa harga obatnya? Soale bentar lagi subsidi untuk itu di stop. Mong-omong, konselor di mana neh ?

  5. @andri
    makasih….. lay out depan foto halaman Osaka castle

    @lorensius
    kalo gak salah harga obat ARV sekitar 380 ribu. Masak sih akan distop? Kalo gak salah Global Fund masih bantu kalo untuk terapi ARV. Dulunya saya konselor di PKBI Palembang

  6. ba9uzZZZzz. . .
    bR9una Jga…
    Saya jadi aware sm pmeriksaan yg tadinya bwt jaga” yg bisa jg brbahaya..
    Sering” aja bikin yg kya bgini!!

  7. Ping-balik: Tetap Lindungi Diri dari HIV | En Rollercoaster

  8. @om mbel
    om mbel termasuk kriteria orang di atas gak? kalau merasa ya monggo diperiksa

    @VCT sudah disosialisasikan kok. kenapa istilah asing karena KTS (konseling dan tes sukarela) sepertinya jarang dipakai

  9. Ping-balik: Mitos dan Kesalahpahaman Seputar HIV dan AIDS « Bhyllabus

  10. saya pernah coba kontak untuk tes vct disalah saru RSUD..kyknya kurang responsibel,,dengan pertanyaan yg macem2.pdhl saya sudah dengan sukarela bersedia utk di tes.dengan jawaban yg berbelit2 si resepsionis bilang kalau untuk tes semacem itu harus ada rekomendasi dari dokter dulu,..
    apa itu bener?

  11. Ping-balik: #1 itikkecil dan review blognya di tahun 2010 | Itik Kecil

  12. badan lemes sesek napas nich,soalnya 10 th yg lalu doyan kawin(pecinta wanita)jangan jangan kena aids gimana dong konselor(kaya pejabat di kedutaan aja)!!!!????

  13. Kalau masih dalam window periode pasien di sarankan untuk pemeriksaannyg lebih spesifik lagi mis westernblood atau pemeriksaan viralload !sesuai dengan buku panduan depkes aja !

  14. wiiiiiik asik bget nih teryata byak yg peduli tentang hiv aids,salut deh sama temen yang komen,byk sekali yg perlu tau nich………ok aku kerja di rumah sakit kebetulan bagianku tuh yg namanya vct…………..gak usah takut hbg aja nomer hpku kalo mau tanyak tentang vct dan hiv aids,no hpku 081325630492.di jamen ok end privacy buuuuanget tak tggu ya…………

  15. sy lg meneliti ttg program vct itu apa saja & lg nyari referensinya, kira2 dmn ya adanya? boleh minta no hpnya? syukur2 qt ktm lgsung, sy djakarta timur

  16. Ping-balik: 6 | Itik Kecil

  17. skrg la berubah yuk, bukan perilaku seksual berisiko bae, tp semua orang yg aktif secara seksual…
    krn faktanya ibu2rumah tangga yg banyak jd korban, apalagi stigma “saya-kan wanita baik2”, walaupun ppunya satu partner seksual semua istri bik2 disarankan tes HIV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s