Dua Garis Biru (review)

Film Dua Garis biru bercerita tentang high school sweetheart, Bima dan Dara. Bima dan Dara dua sosok yang bertolak belakang, yang satu pintar sementara yang satu peringkat paling bawah di kelas. Yang satu dari keluarga kaya sementara yang satu dari keluarga yang pas-pasan dan tinggal di perkampungan. Akibat suatu kesalahan yang akhirnya mereka sesali, Dara pun hamil. Film ini menceritakan tentang perjuangan mereka berdua menghadapi kehamilan remaja ini termasuk dampaknya terhadap orang-orang di sekitar mereka.

Akting semua pemain film ini luar biasa, adegan yang paling keren tentu saja adegan di ruangan UKS sekolah, adegan one long take scene ini  berhasil menampilkan emosi semua pemain dengan baik. Scene lain yang tidak kalah brillian adalah penggunaan simbol strawberry. Saya juga tidak akan melihat jus strawberry dengan cara yang sama. Penggambaran kelas sosial yang berbeda antara keluarga Dara dan Bima juga tergambar dengan baik di film ini. Bima sendiri adalah anti-hero, bukan murid yang terlalu pandai di kelas dan mengutip komentar salah seorang netijen, tampak buluk di film ini. Sementara kecintaan Dara dengan Korea tergambar dengan adanya poster-posterdan “itu suami-suami aku.” Sound familiar, wahai pencinta K-pop?

adegan di ruangan UKS

Akting Cut Mini seperti biasa sangat menawan, termasuk adegan ketika ia melampiaskan amarahnya dengan mengulek bumbu pecel. Kembalinya Lulu Tobing dalam film ini juga menunjukkan kekuatan aktingnya. Sementara Angga Yunanda dan Zara berhasil memerankan Bima dan Dara dengan natural. Angga dan Zara bisa menjadi the next rising star.

Pemain lainnya juga tidak kalah bagusnya. Ada Rachel Amanda yang berperan sebagai Dewi kakak Bima dan Arswendy serta Dwi Sasono yang berperan sebagai bapak Bima dan Dara. Tatapan ketika Dwi Sasono melakukan akad nikah dengan Bima itu menggambarkan semuanya, perasaan kecewa, kesal dan marah yang berhasil terlihat dengan tatapan mata saja. Tanpa perlu menggunakan suara hati seperti sinetron-sinetron Indonesia, penonton bisa menangkap emosi tiap pemain hanya dengan mengamati ekspresi mereka.

That look

FIlm tentang kehamilan remaja bukan ide baru di perfilman Indonesia, namun Gina S Noer sebagai sutradara dan penulis skenario berhasil menggambarkan masalah yang dekat dengan masyarakat ini. Saya percaya bahwa sebagian besar orang pernah tahu kasus teman atau kenalan yang hamil duluan di usia muda. Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2017 menunjukkan bahwa ada 500 kasus kehamilan usia remaja per tahun. Sayangnya, ketika diketahui ada siswi yang hamil di luar nikah biasanya dikeluarkan dari sekolah. Ini yang disentil oleh film ini, ketika Dara dikeluarkan dari sekolah dengan alasan menjaga nama baik sekolah sementara Bima tetap diperbolehkan melanjutkan sekolah oleh pihak sekolah.

Gina juga berhasil menampilkan dialog-dialog yang cerdas dan membuat penonton akan berpikir tentang dampak seks pranikah di kalangan remaja. Sayang sekali ada yang mengajak untuk memboikot film ini karena dianggap mengkampanyekan tentang pacaran. Justru setelah nonton film ini dijamin bakal ogah buat pacaran dan bakal menjauhi seks pranikah. Karena dengan hanya melakukan sekali saja, konsekuensinya bakal ditanggung seumur hidup. Seperti kata Rika ibunya Dara, punya anak itu bukan hanya mengandung 9 bulan 10 hari, itu komitmen seumur hidup.

Film ini tidak menghakimi perbuatan Dara dan Bima, tetapi juga menunjukkan bahwa ketika terjadi kehamilan tidak diinginkan yang salah bukan hanya pelakunya, tetapi juga orangtua. Anak seharusnya dibekali tentang pengetahuan tentang seks serta dampak dari hubungan seks di luar nikah. Bahwa punya anak itu bukan hanya hamil dan melahirkan tetapi juga tanggung jawab untuk membesarkan anak.

Saya percaya bahwa pendidikan seks itu sangat penting buat remaja, jangan salah paham dengan kata pendidikan seksnya. Pendidikan seks di sini lebih ke pengenalan tentang organ kesehatan reproduksi, kehamilan dan penyakit menular seksual. Dengan informasi yang benar sedari kecil maka akan bisa terhindar dari pelecehan seksual, kehamilan tidak diinginkan, penyakit menular seksual dan adanya minsinformasi yang sekarang bisa didapat dengan gampang dari internet.

Mau pake pendekatan keagamaan silakan saja, tapi rasanya pendekatan agama saja tidak cukup. Korupsi katanya berdosa, tapi orangtua yang korupsi tetap saja ada tuh. Maunya orangtua kan tidak ada seks di luar nikah, tapi lagi-lagi dari SDKI 2017, ada 3.6 % remaja laki-laki dan 0,9% remaja perempuan usia 15 – 19 tahun yang melakukan seks pranikah. Sedikit? memang, tapi masalahnya tetap ada.

Terlalu jauh kalau mau mengkampanyekan kondom, tetapi yang jelas remaja harus tahu bagaimana menghindari kehamilan yang tidak diinginkan. Di dunia ideal harusnya seperti itu, tidak ada kehamilan yang terjadi di luar nikah. Tapi dunia nyata tidak berjalan seperti itu. Resiko kehamilan di usia remaja sangat besar. Kehamilan di usia sebelum 20 tahun itu 20 kali lebih berat resikonya dari pada kehamilan di usia 20 – 39 tahun. Ini menjadi salah satu faktor yang membuat angka kematian ibu dan anak di Indonesia masih tinggi. Selain itu di Indonesia sendiri secara hukum aborsi dilarang, maka tidak ada pilihan kecuali untuk membesarkan anak dari kehamilan di luar nikah. Padahal seandainya ada akses untuk melakukan aborsi secara aman bagi kehamilan tidak diinginkan maka kasus kematian ibu dan bayi di Indonesia akan menurun. Aborsi ilegal dan tidak aman juga menjadi penyumbang dari tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Belum lagi pernikahan di usia dini seringkali berujung dengan kemiskinan dan KDRT akibat pasangan yang belum siap untuk menikah.

Dara termasuk beruntung, Bima mau bertanggung jawab begitu juga dengan keluarga Bima yang mendorong Bima untuk bertanggung jawab. Kalaupun Bima tidak mau bertanggung jawab, orangtuanya masih mendukung Dara untuk melanjutkan kehamilannya. Di dunia nyata, kadang begitu terjadi kehamilan di luar nikah orang tua yang laki-laki menyalahkan pihak perempuan dan tidak mau bertanggung jawab. Ada yang beranggapan kalau punya anak laki-laki itu lebih aman karena gak mungkin hamil. Ya gak mungkin hamil tapi bisa menghamili, Fergusoooooo!

Ketika anak yang hamil di luar nikah, orangtua yang juga menanggung akibatnya. Paling tidak menanggung malu ketika jadi bahan omongan tetangga. Meskipun seperti kata Bima kepada Dara, “Paling jadi bahan omongan sebentar. Lama-lama kan mereka capek juga ngomongin kita.” Belum lagi ketika dihadapkan kenyataan bahwa anak mereka terpaksa putus sekolah karena hamil di luar nikah. Masa depan anak jadi terasa suram.

Film ini membuat saya sadar bahwa ketika ada masalah, keluarga lah tempat untuk kembali. Semarah-marahnya orangtua ke anak, yang terpenting bagi orangtua adalah yang terbaik untuk masa depan anak. Termasuk juga menerima keputusan yang diambil oleh si anak.

Film ini bagus untuk menjadi gerbang ke pendidikan seks bagi orangtua. Setelah menonton film ini bersama kemudian dilanjutkan dengan diskusi tentang konsekuensi hubungan seks di luar nikah. Bagi orangtua yang melarang anaknya berpacaran, film ini bisa jadi contoh bagus bagi anak tentang akibat pacaran di usia muda. Bagi orangtua yang fine saja anaknya berpacaran, film ini bisa jadi contoh untuk pacaran yang sehat, bagaimana bisa menjalin hubungan dengan lawan jenis tanpa merugikan diri sendiri.

Buat remaja, menonton film ini akan menyadarkanmu bahwa satu kali saja berbuat kesalahan konsekuensinya bisa berlanjut seumur hidup dan akan berdampak juga dengan orang-orang yang kamu cintai. Buat saya, film ini membuat saya pulang dengan mata bengkak akibat terlalu banyak menangis.

Rating: 5/5

Sutradara/Penulis skenario: Gina S Noer
Pemain:
Adhisty Zara
Angga Yunanda
Cut Mini
Lulu Tobing
Arswendy Bening
Dwi Sasono
Rachel Amanda

Foto poster diambil dari sini.

2 thoughts on “Dua Garis Biru (review)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.