Kembali ke akar….

setiap kali kembali ke sini saya selalu merasa kembali ke akar saya. bagaimanapun 75% darah yang mengalir di tubuh saya berasal dari sini.

saat ini sungainya memang agak surut. tapi dulu saya pernah dua kali hanyut di sungai ini 😳 Dan ketika balik di sini saya menemukan foto saya ketika kecil sedang berenang nak*d di sungai ini. demi kemaslahatan umat dan agar blog ini dituduh melanggar UU ITE, dengan sangat menyesal foto itu terpaksa tidak dipasang di blog ini.

saya agak ngeri naik jembatan gantung ini. tapi sepupu-sepupu saya yang kecil-kecil ini dengan entengnya menghina-dina saya… “Kak Ira cemen, nenek-nenek aja berani kok naik jembatan ini” Ingin rasanya mencekik anak-anak kecil ini πŸ‘Ώ

saya jadi teringat ketika kecil dulu belajar menghidupkan perapian ini dengan cara meniupnya memakai bambu. Dengan memakai kayu bakar ini, nenek saya gak perlu khawatir dengan kelangkaan minyak tanah dan gas. tinggal mengumpulkan kayu bakar di hutan.

Sayang saya cuma dua hari di sini. tidak sempat jalan-jalan ke banyak tempat di sini. saya rindu dengan kebun kopi, dongeng dari almarhum kakek saya, melihat kereta api langsam, ikan panggang yang dijepit dengan bambu, jalan-jalan ke kalangan melewati hutan didukung kakek, mandi di sungai selama balik ini saya gak pernah lagi mandi di sungai. How I miss those old happy days…..

Yah… inilah oleh-oleh mudik saya…. mohon maaf kepada para fans pembaca yang menagih oleh-oleh dari saya 😎

64 thoughts on “Kembali ke akar….

  1. Wah menyenangkan ya .. fotoΒ² lama masih disimpan dengan baik. Buat kenangΒ²an untuk anak cucu. Dan dengan adanya kemajuan teknologi saat ini, fotoΒ² kenangan tersebut bisa kita simpan di internet. Jadi bisa dilihat oleh siapa saja dan kapan saja.

  2. @ulan
    namanya sungai pangi lan.. mau jadi monyet beneran?

    @erander
    foto-foto yang menampakkan kebengalan saya juga masih tersimpan dengan baik bang. makanya semuanya mau saya scan daripada fotonya rusak termakan usia.

    @edy
    enggak :mrgreen:

    @lei
    di daerah Lahat, jembatan itu sekitar lima ratus meter. saya agak payah soal ukur-ukuran….

    @Au’
    yakin pernah ke sini? memangnya tahu ini di mana?

  3. @Gie
    dan belum terlalu banyak berubah dari sejak saya kecil dulu.

    @biyung nana
    saya juga masih rindu

    @cK
    sayang kamu gak bisa lihat betapa menggemaskannya saya ketika kecil dulu
    *pura-pura gak baca komen*

  4. Halah … hati – hati mba itik kalau berenang, sungai di sumsel sudah banyak yang tercemar limbah Mercury, hasil PETI (Penambangan Emas Tanpa Ijin)….. Para penambang ini menyatukan bubuk emas dengan Air Raksa (mercury) dan membuangnya langsung ke sungai…. betul kan ?

  5. kangen kalibaru… kangen hutannya, kangen gunungnya, kangen air terjunnya, kangen kebun kopinya, kangen pemandiannya, kangen anak pak haji di depan rumah :mrgreen: orang-orangnya, kangen Mbah Uti… hiks… πŸ˜₯

  6. @ayahshiva
    di muaraenim? kemaren pas mudik lewat di sana πŸ˜€

    @Jendral Bayut
    menghina lo ya πŸ‘Ώ

    @nenyok
    saya juga masih kangen dengan kampung saya πŸ˜€

    @zoel chaniago
    makasih πŸ˜€

    @Silly
    saya sudah baca tapi kayaknya komen saya di sana ketelen akismet deh 😦
    termasuk lintah juga cinta kok sama mbak silly πŸ˜€

    @yudi & ardianto
    di Lahat

    @rere
    kalo di hulu sungai ini gak ada penambangan emas liar pak., airnya juga masih lumayan bening.

    @iman brotoseno
    saya dah lama gak mudik, terakhir sekitar delapan tahun yang lalu.

    @AngelNdutz
    kalo mau, nginep aja di tempat nenek, gratis kok πŸ˜€

    @Ranny
    emberrr

    @Raffael
    pemandangannya biasa aja itu. masih banyak yang lebih keren daripada itu. sayangnya insting orang kita masih kurang untuk menjadikan tempat-tempat ini sebagai tempat pariwisata

    @suandana
    mudik gih….

  7. Mbak…..kok jadi ngingetin kampung saya dulu sih………

    kangen mbak……..sudah 3 tahun belum pulang

    kerjaan dah kayak romusha,numpuk2 terus gak ada henti nya……tahun ini semoga bisa pulang jenguk nenekku disana.

    baideway…..sungai nya seperti di rumah saya di kampung. Pas belakang rumah ada Bengawan solo……cantik banget….

    *gak terasa mataku dah basah….hik*

  8. ya ya ya… rasanya ‘kembali ke akar’ benar2 menggambarkan keadaan kita seriap kali kita kembali ke semuanya berawal. kisah saya dimulai di Jgja, dan setiap kali pulang kampung ke Jogja saya selalu merasa damai dan tentram, meski keadaan Jogja sudah mulai ‘panas’.

  9. Hati-hati loh sama sungai. Kadang dalamnya menipuu….
    Tp back to nature alias to kampung emang membangkitkan kenangan-2……

    **jd rindu pengen pulang ke Biak…

  10. huaaaaaaa… jd pengen pulang kampung jg. 😦 huhuhu…
    wah, masih tradisional sekali di sana.
    *menunggu foto mbak Ira yg katanya nak*d, tp belum kebuka2 jg dr sini… :P*

  11. salam kenal mbak ira.

    makanan dari kayu bakar rasanya lebih enak. ya ngga mbak?

    * jadi kangen kampung halaman

  12. kembali ke akar, kembali ke alam, justru seringkali malah membuat kita makin mampu menikmati dan menghayati nilai2 kemanusiawian kita, mbak ira. aku kadang2 kepingin banget bisa kembali ke masa kanak2 yang bisa begitu bebas bermanin di sungai sambil telanjang, eh, setengah telanjang bersama teman2 sepermainan. indah memang mengenang mas kanak2, mbak. btw, kok dulu bisa hanyut tuh gimana ceritanya, mbak? hehehehe πŸ˜†

  13. @kw
    mpek-mpeknya ada di rumah πŸ˜€

    @windra
    ternyata hampir setiap orang punya kenangan atas kampung halaman mereka.

    @Farid Yuniar
    masih bisa lewat kok Rid, gak bakalan roboh kalau cuma dirimu yang lewat. wong motor aja bisa lewat situ kok.

    @Nazieb
    soalnya desa saya gak dilewati jalan lintas sumatera. makanya laju pembangunannya sedikit lebih lambat dibandingkan tempat lain.

    @khofia
    karena kembali ke asal kita?

    @COTS
    bukannya deket gitu?

    @kniapril
    keren, tapi saya gak berani naik πŸ˜€

    @Zee
    saya aja dua kali hanyut di sana πŸ˜€

    @Juminten
    gak juga. di sana listrik dan kompor gas sudah ada. tapi cara lama masih dipakai juga πŸ˜€
    *pura-pura gak baca komen selanjutnya*

    @arifrahmanlubis
    memang lebih enak πŸ˜€

    @achoeysangkhilaf
    err… saya gak lahir di situ. tapi orangtua saya berasal dari situ. dan memang setiap ke sini saya merasa kembali ke akar saya.

    @antokoe
    kembali untuk berkumpul bersama sanak saudara.

    @Sawali Tuhusetiya
    saya nekad berenang pas arusnya lagi deras. jadinya hanyut deh… untung ada yang liat, jadi saya cepet-cepet diseret ke pinggir sungai 😳

    @bedh
    jembatan itu penghubung desa saya dengan desa di sebelahnya. sebelumnya kalau mau ke desa sebelah harus menyeberangi sungai. atau jalan memutar dan lebih jauh.

    @warmorning
    baju kotor mau? :mrgreen:

    @kabarihari
    *cincang hari*

    @maskoko
    iya, sampe sekarang masih dipakai.

    @CY
    saya no comment deh πŸ˜€

    @sez
    di Lahat

    @Fikar
    saya gak sempat tuh….

    @ayaelectro
    iya πŸ˜€

  14. jadi pengen pulang kampung halaman, sayangnya kampunghalamanku udah ngga enak buat nostalgila an, karena sudah tlalu gila

    sungainya bagusssssssssss, pengen nyilem dan skiny dip waktu malam (pasti enak deh sambil ngecamp di pinggir nya)

    sayang ya skrinsutnya waktu itik kecil masih kecil skiny dip (NAKED!) ngga ada,

    ” kabuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrr”

Leave a Reply to Jendral Bayutβ„’ Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.