Tabula Rasa

Dalam perjalanan saya mudik beberapa waktu yang lalu, ketika kembali pulang kami sempat mampir di salah satu jaringan restoran padang yang terkenal. Sayangnya, rasa makanan di sana tidak terlalu enak. Mungkin hanya rasa lapar lah yang menyebabkan kami bisa menghabiskan makanan yang sudah diambil.

Tabula Rasa

Tabula Rasa

Kenangan makan di restoran padang yang membuat kecewa itu terlintas kembali ketika menonton film ini di bioskop beberapa hari yang lalu. Adalah Hans, seorang anak muda asal Serui yang mengejar mimpi untuk menjadi pemain bola profesional di Jakarta. Sayangnya, cidera kaki membuatnya harus menghapus mimpi itu dan berjuang untuk hidup di belantara Jakarta. Lelah dengan keadaan ini, ia mencoba bunuh diri dan gagal. Ketika itulah ia diselamatkan oleh Emak (Dewi Irawan), seorang pemilik lapau atau rumah makan padang ‘Takana Juo’. Kedatangan Hans ke lapau itu tidak disambut hangat oleh uda Parmanto dan Natsir yang tidak menyetujui kebaikan hati emak pada Hans. Sementara itu, salah satu restoran padang besar ternyata membuka cabang tidak jauh dari lapak itu. dan dari situ konflik pun bermula.

Meskipun dalam film ini cerita hanya difokuskan pada empat orang, namun tidak terasa sepi. Bahasa Padang yang dipergunakan oleh beberapa tokoh dalam film ini juga tidak terlihat kaku. Di akhir film ini, pertanyaan kenapa emak tidak mau memasak gulai kepala kakap akhirnya terjawab. Sayangnya karakter Parmanto dan Natsir kurang diperdalam. Film ini juga membuat karakter antagonis yang tidak benar-benar jahat. Orang masih akan bisa memahami alasan kenapa misalnya Parmanto akhirnya berlaku kurang baik.

Menonton film ini memang membuat saya ingin langsung ke rumah makan padang, suara desisan minyak di penggorengan, tampilan dendeng batokok yang sedang dipanggang memang membuat air liur bisa muncul. Balik lagi ke pernyataan saya di awal, salah satu konflik yang terjadi antara emak dan uda Parmanto adalah soal mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan membeli bahan makanan yang semurah mungkin atau membuat makanan yang enak dari bahan berkualitas dengan menekan margin. Nampaknya, restoran yang saya datangi memegang prinsip yang berseberangan dengan emak. Emak tetap berkeras untuk memakai kayu bakar daripada kompor gas, memilih bawang lokal yang lebih tajam rasanya daripada bawang impor yang lebih murah namun hambar. Mungkin juru masak di restoran itu harus belajar lagi dengan emak.

Rating: 4/5

Gambar diambil dari sini.

4 thoughts on “Tabula Rasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s