#87 itikkecil dan menulis

Saya sejak SD sudah diracuni sama Anita Cemerlang. Kalau anak-anak sekarang, sudahlah, saya yakin pasti tidak tahu apa itu Anita Cemerlang. tapi kalau mbak-mbak semacam mbak Imel atau mbak IndJul, saya yakin pasti kenal atau paling tidak pernah membacanya. jangan-jangan malah langganan *ditabok*

Jadi, sejak SD saya sudah baca cerita cinta-cintaan. jangan dibayangkan percintaan seperti jaman sekarang. dalam bayangan saya sebagai anak SD, pacaran itu biasanya nelpon pake telepon koin atau kalaupun LDR paling banter surat-suratan yang biasanya nyampenya seminggu atau sebulan sekali.

Dan sejak SMP saya sudah memberanikan diri untuk menulis cerpen. tentu saja untuk konsumsi pribadi. yang paling saya ingat saat itu adalah inspirasi saya biasanya mengalir deras *tsah* kalau sudah mengetik dengan mesin tik. tentu saja dengan mesin tik, karena komputer masih mahal. jadi rindu dengan pita mesin tik 8eh*

Tema cerpen saya saat itu tidak jauh-jauh dari masalah percintaan anak abege dan tidak pernah happy ending. ternyata dari dulu saya memang lebih suka melawan arus 😆 dan kalau diingat-ingat lagi  lebih banyak berkisar tentang betapa-malangnya-diriku. Sungguh, persepsi diri yang perlu diubah 😳

Satu orang yang banyak men-encourage saya untuk menulis adalah guru Bahasa Indonesia saya di SMA dulu. bukan berarti beliau memberikan perhatian khusus kepada saya, tetapi beliau sering memberikan tugas mengarang cerpen. yang menyenangkan adalah tidak ada istilah cerpen yang jelek. kami hanya diberi nilai jelek jikalau cerpennya tidak selesai.

Entah kenapa sekarang saya merasa tidak bisa seperti dulu lagi. saya tidak bisa menulis cerita seperti dulu. sekarang saya lebih suka mencurahkan perasaan saya sendiri dan menceritakan kejadian yang terjadi sehari-hari. sepertinya kemampuan saya berkhayal sudah berkurang jauh. dan sepertinya juga saya harus mulai menulis cerpen juga. karena bagaimanapun, practice makes perfect, right?

9 thoughts on “#87 itikkecil dan menulis

  1. Aku kenalnya mbak Tuti Nonka ya dari Anita Cemerlang. Yang langganan kantor bapak, ceritanya untuk ibuku, tapi ibuku tuh ngga suka mbaca. Jadi deh aku yang baca semua majalah wanita yang dibawa pulang itu. hehehe

    Cerpen ya? Aku ngga pernah nulis cerpen dan tidak bisa berkhayal. Selalu hidup di realita…tsah 😀

    EM

  2. ha… kalo aku ngaku pernah baca dan suka itu Anita Cemerlang brarti ketauan ya kita seangkatan wkwkkwkwk… jaman itu blom terlalu banyak hiburan kaya sekarang… buku pun belum sebanyak sekarang… paling ya majalah… langganan beberapa waktu itu… tapi Anita Cemerlang cuma beli kalo pas kepengen… ingetnya di Anita Cemerlang itu ada cerita yang muncul paling depan itu biasanya adalah cerpen yang paling oke, istilahnya adalah headline nya… iya tah? :mrgreen:

  3. Seperti yang sekarang ini saya rasakan. Kemampuan saya menulis sedikit banyak menurun di satu sisi, tapi sedikit banyak meningkat di sisi yang lain. (doh) Susah menjelaskan. Yang jelas pepatah itu memang benar. Practice makes perfect. Pengalaman adalah guru yang terbalik! (doh lagi)

  4. Wwwwwwwwwwaaaahh sama dong dulu bacaannya AC hahaha…
    tapi saya kirim cerpen ke AC belum pernah bisa jebol. Pernahnya ke majalah yg ukurannya separoh majalah itu, lupa judulnya.
    Yah kalau sekarang mungkin karena sudah sibuk kali Ra jadi kurang produktif…. 🙂

  5. Ping-balik: Carra dan Menulis « Carra’s World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s